Langsung ke konten utama

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku
Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu. 

Hai, rindu, teman baikku.
Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah. 

Hai, rindu, Jangan mengganggu!
Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku.

"Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu.

Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika mampu, ingin kupindahkan saja rumahku, tepat berada di samping rumahnya, agar kelak jika ia rindu, ia hanya perlu mengetuk pintu rumahku, dan temu bukan lagi hal yang harus kita tunggu. Atau akan jauh lebih mudah jika ia seatap denganku saja?

"Jarak terjauh adalah ketika hati kita tak lagi satu, bukan ratusan kilometer antara bekasi-sidoarjo" katanya dulu, dengan senyum getir di bibir, berusaha meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Sedang perihal temu, masih saja menjadi candu bagiku. Tujuh ratus enam puluh lima koma empat kilo meter membentang menghadang, dan kamu masih saja menekan menggangguku. Ah dasar rindu, mengapa kamu tak berada di pihakku?

Perasaan yang bersambut, hangat genggam tanganmnya atau kecup lembutnya, tak lagi cukup untuk mereda rindu yang menggebu. Kenangan tentang carbonara pagi buta yang ia masak untukku, lambai tangan dan cerah wajahnya ketika menatap mataku, atau pagiku yang penuh bubur ayam favoritnya pun tak cukup memenuhi pundi-pundi rinduku padanya. Ahh, kini aku memang sangat serakah tentangnya.

Kisah kita mungkin dimulai di waktu yang salah, dan tak tentu arah. Namun jangan pernah membuatnya menyerah atau pasrah, ijinkan kita untuk terus melangkah. Biarkan aku merayu sang Pencipta agar menjadikannya utuh milikku, pada pagi-pagi yang dingin, atau pada malam-malam yang ingin. Melawan seluruh duniapun aku mampu, asal ia tetap berada disampingku. 

Jadi, wahai rindu. Mari berdamai denganku.
Mari kita sepakat agar aku dan ia semakin lekat dan memeluk semakin erat. Mari sepakat untuk menjadikan perasaan kami penuh dan utuh. Mari sepakat untuk tak menjadikan keadaan ini semakin mengeruh.


Dari aku,
Yang terpisah 765,4 km dengannya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...