Langsung ke konten utama

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah.

Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya memahami diri ini. Mungkin memang aku yang terlalu penuh teka teki, sehinga tak mudah untuk menyederhanakan kisah kami.

Setelah banyaknya luka yang kusembuhkan sendiri, aku merasa memang hubungan kami seperti ini. Selama kami masih tertawa bersama, semuanya akan baik-baik saja. Biarlah saja ku tutup mata dan telinga atas ratapan hati yang meronta. Bahwasannya semakin ku bangun hubungan kami, bagian lain hidupku yang semakin ku tebang runtuh. Semakin ku utuhkan kisah kami, semakin ku lumpuhkan diri sendiri. Semakin ingin aku membuat kisah kita bahagia, semakin merana luka dalam dada.

Setelah banyaknya patah dalam setiap kisah, aku kira kini ku temukan tempat berlabuh. Dimana kan ku lepas lelah dan lemah. Dia yang ku yakini sebagai riuh di sepinya dadaku, jingga di langitku yang abu, atau hangat di dinginnya hariku ternyata hanya sebatas hampa dalam anganku. Dia yang selalu ku dekap erat, ternyata justru menikam begitu rapat. Apa-apa yang ku sebut bahagia, seketika runtuh berserak.

Setelah resah dan gundah yang panjang. Hati masih saja lantang menantang diri untuk bertahan sedikit lagi, saat isi kepala berkata tak ada yang dapat dipertahankan lagi. Ada saja rasa yang tak terima, enggan melepas harap yang terajut tak pasti. Ada saja bela yang menggaung bahwa sakit ini tak akan lama lagi. Sedang semesta seakan menunjukkan bahwa tak ada lagi yang bisa kuyakini. Bahwa bertahan seaungguhnya hanya menyakiti. Aku hanya menunda waktu untuk melepasnya pergi sedang dia tak segan meninggalkanku sendiri. 

Di sisa-sisa harapku yang terinjak mati. Tak henti ku rapal doa, semoga kelak kamu mengerti apa-apa yang aku ingini. Semoga kelak ada bahagia walau mungkin tak ada lagi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...