Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah.
Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya memahami diri ini. Mungkin memang aku yang terlalu penuh teka teki, sehinga tak mudah untuk menyederhanakan kisah kami.
Setelah banyaknya luka yang kusembuhkan sendiri, aku merasa memang hubungan kami seperti ini. Selama kami masih tertawa bersama, semuanya akan baik-baik saja. Biarlah saja ku tutup mata dan telinga atas ratapan hati yang meronta. Bahwasannya semakin ku bangun hubungan kami, bagian lain hidupku yang semakin ku tebang runtuh. Semakin ku utuhkan kisah kami, semakin ku lumpuhkan diri sendiri. Semakin ingin aku membuat kisah kita bahagia, semakin merana luka dalam dada.
Setelah banyaknya patah dalam setiap kisah, aku kira kini ku temukan tempat berlabuh. Dimana kan ku lepas lelah dan lemah. Dia yang ku yakini sebagai riuh di sepinya dadaku, jingga di langitku yang abu, atau hangat di dinginnya hariku ternyata hanya sebatas hampa dalam anganku. Dia yang selalu ku dekap erat, ternyata justru menikam begitu rapat. Apa-apa yang ku sebut bahagia, seketika runtuh berserak.
Setelah resah dan gundah yang panjang. Hati masih saja lantang menantang diri untuk bertahan sedikit lagi, saat isi kepala berkata tak ada yang dapat dipertahankan lagi. Ada saja rasa yang tak terima, enggan melepas harap yang terajut tak pasti. Ada saja bela yang menggaung bahwa sakit ini tak akan lama lagi. Sedang semesta seakan menunjukkan bahwa tak ada lagi yang bisa kuyakini. Bahwa bertahan seaungguhnya hanya menyakiti. Aku hanya menunda waktu untuk melepasnya pergi sedang dia tak segan meninggalkanku sendiri.
Di sisa-sisa harapku yang terinjak mati. Tak henti ku rapal doa, semoga kelak kamu mengerti apa-apa yang aku ingini. Semoga kelak ada bahagia walau mungkin tak ada lagi kita.
Komentar
Posting Komentar