Langsung ke konten utama

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu. 

Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi. 

Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak berbekas di hati. kamu bahkan tak menyadari ketiadaan hadirku disisi. Aaahhh, sejujurnya aku merasa iri, pada mereka yang mampu menatap binar matamu setiap hari. 

Lantas apa yang harus ku lakukan kini? kemanakah harus kulangkahkan kaki? Haruskah aku mengayun pergi? Atau tetap kulabuhkan hati pada dermaga yang tak pasti? Ahh, aku tak tau harus bagaimana lagi. Haruskah aku tetap menemanimu disini? Karna beranjak pergi terasa begitu pedih. Bahagiakah kamu jika aku mengusir si sepi agar hari-harimu terus berseri walau harus kubunuh perasaan dihati. Mengapa aku begitu jatuh hati kini, ketika awalnya kamu yang memilih untuk menepi, untuk melabuhkan hati. Berubahkah haluanmu kini? Apakah aku tak cukup hangat utuk kamu singgahi? Atau nyatanya aku tak seperti yang kamu ingini?

Sudahlah, menyesalpun semua telah terjadi. Aku telah jatuh hati padamu, telah jatuh terlalu jauh. Biarlah kini kutahan rasa dihati. Biarkan rindu terbawa angin lalu, sendu dihibur langit kelabu, dan rasaku berhambur padamu. Seperti hari-hari lalu, aku akan tetap ada untukmu, merangkaikan doa untuk bahagiamu. Karna suatu hari nanti, jika telah tiba saatnya, semua akan kembali seperti semula, hati yang luka akan baik-baik saja, dan mendengar namamu akan terasa biasa saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...