Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.
Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.
Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak berbekas di hati. kamu bahkan tak menyadari ketiadaan hadirku disisi. Aaahhh, sejujurnya aku merasa iri, pada mereka yang mampu menatap binar matamu setiap hari.
Lantas apa yang harus ku lakukan kini? kemanakah harus kulangkahkan kaki? Haruskah aku mengayun pergi? Atau tetap kulabuhkan hati pada dermaga yang tak pasti? Ahh, aku tak tau harus bagaimana lagi. Haruskah aku tetap menemanimu disini? Karna beranjak pergi terasa begitu pedih. Bahagiakah kamu jika aku mengusir si sepi agar hari-harimu terus berseri walau harus kubunuh perasaan dihati. Mengapa aku begitu jatuh hati kini, ketika awalnya kamu yang memilih untuk menepi, untuk melabuhkan hati. Berubahkah haluanmu kini? Apakah aku tak cukup hangat utuk kamu singgahi? Atau nyatanya aku tak seperti yang kamu ingini?
Sudahlah, menyesalpun semua telah terjadi. Aku telah jatuh hati padamu, telah jatuh terlalu jauh. Biarlah kini kutahan rasa dihati. Biarkan rindu terbawa angin lalu, sendu dihibur langit kelabu, dan rasaku berhambur padamu. Seperti hari-hari lalu, aku akan tetap ada untukmu, merangkaikan doa untuk bahagiamu. Karna suatu hari nanti, jika telah tiba saatnya, semua akan kembali seperti semula, hati yang luka akan baik-baik saja, dan mendengar namamu akan terasa biasa saja.
Komentar
Posting Komentar