Ada saat dimana aku merasa lelah, dan hanya ingin sekedar rebah. Merapikan serpihan hati yang patah, agar yang pecah tak melukai jiwa yang telah pasrah. Ada waktu dimana aku merasa sepi, di antara gemerlapnya hari. Sendiri berdiam di tepi, meratapi hati yang kian mati. Sama seperti yang lalu, hari ini aku merindumu lagi. Ah, atau kusebut saja tak mampu menahan rindu? Karna nyatanya tak sedetikpun aku tak merindumu. Sama seperti kisah yang lalu, hatiku masih membiru karnamu.
Kali ini segalanya tak jauh berbeda. Aku masih tak mampu berhenti mendambamu, dan merutuki kebodohan hatiku. Masih saja ia mudah terbujuk rayu, melambung karna angan karanganku. Pikiran dan hatikupun masih saling beradu, berdebat menyalahkan sang waktu. Ahh, pikirku masih saja tak henti menerka alasanmu mengabaikanku, bahkan kini ia pandai mengarang cerita tentangmu. Membujuk hatiku agar tak begitu saja berhenti memperjuangkanmu. Betapa pandai ia merekam setiap inci kenangan tentangmu. Satupun tak ada yg terlupa. Setiap detik yang berlalu terekam begitu sempurna. Bahkan ia tak henti merinci tentang apa-apa saja yang membuatku jatuh hati. Sementara hatiku hanya pasrah karena merasa begitu lelah. Tempatnya berlabuh kini telah menjauh. Tempatnya pulang kini telah hilang.
35 hari tanpamu, dan hatiku masih saja terpaku terbujuk kenangan ketika kamu masih disampingku. Bagaimana kamu dengan mudah membuatku luruh dalam tawamu, bagaimana aku tak perlu berpura-pura didepanmu dan dengan mudah menceritakan semua kisahku. Denganmu aku hanya perlu menjadi "aku", sosok yang tak semua orang tau. Denganmu aku tak perlu merasa malu, karna kamu tak pernah sekalipun meragukanku. Padamu aku menemukan apa yang hilang, menemukan tempat untuk pulang. Kamu, adalah nyaman yang aku idamkan setelah badai panjang yang tak kunjung hilang. Sayangnya, bukan padaku bagianmu yang hilang. Bukan aku rumah yang kamu idamkan. Bukan aku tempatmu ingin pulang.
Pada akhirnya aku hanyalah pelabuhan sementara diantara perjalananmu yang panjang. Dermaga yang tak cukup kuat menahan kapalmu agar tak karam dihantam ombak lautan kehidupan. Aku adalah sederet kalimat sederhana bagimu, sementara kamu adalah tokoh utama dalam kisahku. Aku adalah butiran debu dalam hidupmu, sementara kamu adalah seluruh semestaku. Aku bukan apa-apa untukmu, sementara kamu segalanya bagiku.
Bukan tuan, ini bukan salahmu. Semesta yang ingin kita bertemu. Jalan kita memang sempat menyatu sebelum pada akhirnya berpisah di persimpangan. Kamu memilih jalanmu, begitupun aku, yang mau tak mau harus melangkah maju. Hati-hati, teruslah melangkah tanpa ragu. Doaku akan selalu menyertaimu.
Komentar
Posting Komentar