Langsung ke konten utama

My illusion, my mistake

Ada saat dimana aku merasa lelah, dan hanya ingin sekedar rebah. Merapikan serpihan hati yang patah, agar yang pecah tak melukai jiwa yang telah pasrah. Ada waktu dimana aku merasa sepi, di antara gemerlapnya hari. Sendiri berdiam di tepi, meratapi hati yang kian mati. Sama seperti yang lalu, hari ini aku merindumu lagi. Ah, atau kusebut saja tak mampu menahan rindu? Karna nyatanya tak sedetikpun aku tak merindumu. Sama seperti kisah  yang lalu, hatiku masih membiru karnamu. 

Kali ini segalanya tak jauh berbeda. Aku masih tak mampu berhenti mendambamu, dan merutuki kebodohan hatiku. Masih saja ia mudah terbujuk rayu, melambung karna angan karanganku. Pikiran dan hatikupun masih saling beradu, berdebat menyalahkan sang waktu. Ahh, pikirku masih saja tak henti menerka alasanmu mengabaikanku, bahkan kini ia pandai mengarang cerita tentangmu. Membujuk hatiku agar tak begitu saja berhenti memperjuangkanmu. Betapa pandai ia merekam setiap inci kenangan tentangmu. Satupun tak ada yg terlupa. Setiap detik yang berlalu terekam begitu sempurna. Bahkan ia tak henti merinci tentang apa-apa saja yang membuatku jatuh hati. Sementara hatiku hanya pasrah karena merasa begitu lelah. Tempatnya berlabuh kini telah menjauh. Tempatnya pulang kini telah hilang.

35 hari tanpamu, dan hatiku masih saja terpaku terbujuk kenangan ketika kamu masih disampingku. Bagaimana kamu dengan mudah membuatku luruh dalam tawamu, bagaimana aku tak perlu berpura-pura didepanmu dan dengan mudah menceritakan semua kisahku. Denganmu aku hanya perlu menjadi "aku", sosok yang tak semua orang tau. Denganmu aku tak perlu merasa malu, karna kamu tak pernah sekalipun meragukanku. Padamu aku menemukan apa yang hilang, menemukan tempat untuk pulang. Kamu, adalah nyaman yang aku idamkan setelah badai panjang yang tak kunjung hilang. Sayangnya, bukan padaku bagianmu yang hilang. Bukan aku rumah yang kamu idamkan. Bukan aku tempatmu ingin pulang. 

Pada akhirnya aku hanyalah pelabuhan sementara diantara perjalananmu yang panjang. Dermaga yang tak cukup kuat menahan kapalmu agar tak karam dihantam ombak lautan kehidupan. Aku adalah sederet kalimat sederhana bagimu, sementara kamu adalah tokoh utama dalam kisahku. Aku adalah butiran debu dalam hidupmu, sementara kamu adalah seluruh semestaku. Aku bukan apa-apa untukmu, sementara kamu segalanya bagiku.

Bukan tuan, ini bukan salahmu. Semesta yang ingin kita bertemu. Jalan kita memang sempat menyatu sebelum pada akhirnya berpisah di persimpangan. Kamu memilih jalanmu, begitupun aku, yang mau tak mau harus melangkah maju. Hati-hati, teruslah melangkah tanpa ragu. Doaku akan selalu menyertaimu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...