Bagaimana bisa begitu mudah perhatianmu dicuri lagi? Bagaimana bisa senyum tergambar begitu mudah hanya dengan sekali sapa? Aaahhh. Mangapa begitu mudah kamu menyerahkan hatimu begitu saja. Mengapa begitu mudah hatimu berdebar, berdesir bergejolak hanya karna tatap matanya. Aahhh. Masihkan kamu tak mengerti bahwa seharusnya tak semudah ini. Tapi mau bagaimana lagi? Nyatanya hatimu telah dibawa lari.
Lagi lagi kamu sibuk merangkai mimpi, menipu diri sendiri. Membangun harap yang tak pasti. Lalu kembali terluka lagi. Siapa lagi yang akan kamu salahkan kini? Masih saja kamu tak jera menitipkan harapan pada manusia. Masih saja kamu mencoba percaya pada omong kosong berkedok cinta. Haaahhh.. Mengapa kamu bisa sebodoh ini. Mengapa tak kamu sudahi saja semua khayalan ini.
Seperti kisah yang lalu, kamu memilih buta, memilih tuli, mengabaikan segala peringatan untuk berhati-hati. Lalu kini, ketika ia memilih pergi, yang kamu lakukan hanya meratapi, menyesapi perih yang datang lagi. Mematahkan hatimu sendiri. Menyesali semua yang terjadi, mengapa tak putuskan untuk berhenti jauh-jauh hari.
Kamu percaya, dia adalah senja yang hangat. Yang akan memelukmu erat, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja ketika kamu membutuhkannnya. Bagimu, dia adalah tawa, yang menjelma sangat nyata dan membawa bahagia. Seseorang yang akan selalu menggenggam tanganmu ketika seisi dunia berusaha menjatuhkanmu. Seseorang yang begitu kamu percaya, nyatanya berlalu begitu saja. Dan seketika bahagiamu sirna.
Dan kini, kamu kembali memeluk sepi. Berusaha bangkit setelah jatuh terlalu jauh. Membunuh harap yang sudah terlanjur tumbuh. Seperti hari sepi yang lalu lalu, kamu duduk termangu. Menatap punggung yang kian menjauh, dan tak akan ada lagi temu. Seperti hari kelabu yang lalu, kamu merutuki kebodohanmu, menyatukan kembali serpih hati yang tak lagi utuh.
Komentar
Posting Komentar