Langsung ke konten utama

And suddenly, we were strangers again

Bagaimana bisa begitu mudah perhatianmu dicuri lagi? Bagaimana bisa senyum tergambar begitu mudah hanya dengan sekali sapa? Aaahhh. Mangapa begitu mudah kamu menyerahkan hatimu begitu saja. Mengapa begitu mudah hatimu berdebar, berdesir bergejolak hanya karna tatap matanya. Aahhh. Masihkan kamu tak mengerti bahwa seharusnya tak semudah ini. Tapi mau bagaimana lagi? Nyatanya hatimu telah dibawa lari. 

Lagi lagi kamu sibuk merangkai mimpi, menipu diri sendiri. Membangun harap yang tak pasti. Lalu kembali terluka lagi. Siapa lagi yang akan kamu salahkan kini? Masih saja kamu tak jera menitipkan harapan pada manusia. Masih saja kamu mencoba percaya pada omong kosong berkedok cinta. Haaahhh.. Mengapa kamu bisa sebodoh ini. Mengapa tak kamu sudahi saja semua khayalan ini.

Seperti kisah yang lalu, kamu memilih buta, memilih tuli, mengabaikan segala peringatan untuk berhati-hati. Lalu kini, ketika ia memilih pergi, yang kamu lakukan hanya meratapi, menyesapi perih yang datang lagi. Mematahkan hatimu sendiri. Menyesali semua yang terjadi, mengapa tak putuskan untuk berhenti jauh-jauh hari.

Kamu percaya, dia adalah senja yang hangat. Yang akan memelukmu erat, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja ketika kamu membutuhkannnya. Bagimu, dia adalah tawa, yang menjelma sangat nyata dan membawa bahagia. Seseorang yang akan selalu menggenggam tanganmu ketika seisi dunia berusaha menjatuhkanmu. Seseorang yang begitu kamu percaya, nyatanya berlalu begitu saja. Dan seketika bahagiamu sirna.

Dan kini, kamu kembali memeluk sepi. Berusaha bangkit setelah jatuh terlalu jauh. Membunuh harap yang sudah terlanjur tumbuh. Seperti hari sepi yang lalu lalu, kamu duduk termangu. Menatap punggung yang kian menjauh, dan tak akan ada lagi temu. Seperti hari kelabu yang lalu, kamu merutuki kebodohanmu, menyatukan kembali serpih hati yang tak lagi utuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...