Langsung ke konten utama

Hold on a little bit more


“apasih bedanya aku sama cewek lain? Aku udah berkali-kali nyakitin kamu. Aku juga udah berkali-kali bilang kalo aku nggak bisa sama kamu. kenapa kamu masih nunggu aku? Sementara selama ini banyak cewek yang lebih baik dari aku yang bersedia jadi pacarmu. Bahkan mereka bener-bener sayang sama kamu.” Kata-kata itu memang tak asing bagiku, bahkan berkali-kali terngiang di telingaku, berputar diotak ku.

“Aku sadar, aku telah membuang waktuku bertahun-tahun untuk hal yang sia-sia, tapi entah kenapa, aku masih ingin bertahan, masih ingin menunggu. Aku merasa suatu saat nanti mungkin kamu akan melihatku. Dan bukankah selama ini aku tak pernah memaksamu untuk membalas perasaanku? Lalu apa yang membuatmu berusaha memaksaku untuk melupakanmu?” Jawabku perlahan. Ia tampak terkejut mendengar kata-kataku, tatapan matanya tampak tak percaya. Aku menghembuskan nafas perlahan, dan mengalihkan pandanganku keluar jendela. Pikiranku menari liar.

Aku sadar, 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu. Bukan waktu yang singkat untuk berharap. Akupun ingin bangkit dan meninggalkan semua harapan itu. Tapi entah apa yang masih menahanku hingga saat ini. Mungkin karna rasa sayangku yang begitu besar untuknya, ataukah harapanku padanya yang telah melumpuhkan akal sehatku, aku tak pernah menemukan jawabannya.

Hampir semua orang yang ku kenal telah berusaha menyadarkan aku, dan memintaku melupakannya, bahkan diapun telah memintaku untuk berhenti menunggu. Namun aku tak bergeming. Walaupun aku sadar betapa menyakitkan luka yang ku bawa, aku tetap bertahan.

Aku pernah berusaha mambuka hati untuk orang lain, berusaha menyayangi mereka, berusaha meninggalkan bayang-bayang masa laluku. Namun itu tak merubah perasaanku padanya, semakin aku berusaha melupakannya, semakin aku sadar betapa besar rasa sayangku untuknya.

“apa yang bisa membuatmu melupakan aku? Apa yang harus aku lakuin biar kamu melupakan aku?” tanyanya polos. Aku menatap tajam wajahnya, menatap binar indah di matanya. Ada perasaan senang dan nyaman yang berdesir dihatiku saat melihat wajah manisnya.

“apa yang harus aku lakuin?” ia mengulang pertanyaannya. Ada perasaan menggelitik yang kurasakan mendengar pertanyaan itu.

“kalo aku bilang aku mau kamu jadi pacarku kamu mau? Kalo aku mau minta kamu cium aku kamu mau?” tanyaku padanya. Ia terdiam, dan menatapku tak percaya.
Aku tersenyum menatap ekspresinya. Menunggu kata-kata yang akan ia ucapkan, namun ia hanya terdiam. Aku menatapnya yang tertunduk dalam diam. Memperhatikan setiap helai rambut yang terjuntai indah.

“tak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tak ada satupun yang bisa. Kamu tak akan mengerti bagaimana inginnya hatiku bersamamu, seberapa inginnya aku atas cintamu. Kamu terlalu indah untuk tergantikan. Salah kah aku karna aku terlalu mencintaimu? Salahkah aku karna orang yang benar-benar aku sayangi adalah kamu? haruskah aku meminta maaf atas perasaanku padamu?” tanyaku lembut.

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang berkaca-kaca menatapku. Bibirnya bergetar menahan tangis. Aku terperanjat. Seketika rasa sakit yang menusuk kurasakan. Aku membuatnya menangis. Perlahan ia bangkit dari tempatnya duduk.

“maaf, aku...” ia membiarkan kalimatnya menggantung dan berlari pergi. Aku hanya menatap pilu kepergiannya. Tak sanggup berbuat apa-apa untuk mencegah ia pergi.

Maaf jika rasa cintaku melukaimu. Maaf bila rasa sayangku padamu membuatmu bersedih, bahkan membuatmu menangis. Tak pernah sedikitpun terlintas dibenakku untuk membuatmu meneteskan air mata untukku. Maaf karna cintaku telah melukai mu. Maaf karna aku juga tidak mampu melupakanmu. Maaf kan aku jika kisah kita mungkin tak akan pernah berakhir. Mungkin hanya waktu yang dapat menjawab setiap tanya yang terlintas. Hanya waktu yang dapat menghapus rasa sakit yang tercipta, dan menyembuhkan hati yang terluka.

Aku mungkin sanggup melihatmu bersanding dengan yang lain, Melihatmu tertawa untuk orang lain, Mendengarmu bercerita tentang orang lain. Tapi aku tak pernah sanggup jika harus melupakanmu, menghapus bayangmu dari hidupku, menghapus rasa cintaku untukku. Biarlah rasa cinta untukmu tetap bertahan di hatiku walaupun kau tak akan pernah kumiliki.

Biarlah kisah kita mengalir apa adanya. Mengikuti setiap hembusan waktu yang membawanya. Biarlah kau tetap menjadi bintang dihatiku yang kelam. Walaupun setiap sudutmu yang tajam, dalam menerkam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...