Langsung ke konten utama

Everything has change


Aku tak tau mengapa tiba-tiba jarak antara kita menghilang
Sejak kapan kita mulai berjalan bersisian
Sejak kapan pertengkaran itu terhapuskan
Sejak kapan redup matamu kini berbinar

Yah, awalnya kita memang tak akrab, tak saling berbagi tawa, bahkan tak pernah berdampingan. Tetapi kini semua itu terasa tak nyata, serasa hanya ilusi belaka, karna setiap ku palingkan wajah, aku dapat menangkap sosokmu disana, menangkap sosokmu yang kan selalu tertangkap mataku.
Awalnya kedekatan kita adalah sebuah rahasia, kedekatan kita hanyalah ilusi belaka, dan kedekatan kita tanpa ada suatu makna. Tetapi kini, kedekatan kita serasa nyata, tak hanya terasa, tetapi nampak oleh mata. Aku tak tau sejak kapan kita membiarkan tatapan mereka bertanya, membiarkan bibir mereka tertawa.
Awalnya aku tak merasakan setiap kejanggalan yang ada, dan tak menghiraukan setiap perkataan mereka. Yang aku percaya kamu tak akan berbuat apa-apa seperti apa yang telah kau kata. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatku mulai bertanya, sesatu yang mulai menyadarkan mata, sesuatu yang membuatku mendengarkan mereka.
Aku tak pernah menyadari bagaimana segalanya bermula. Saat aku tersadar, aku telah berdiri di tempat yang tak seharusnya. Dan kusadari aku telah berjalan terlalu lama. Hingga kita mengubah setiap kata, memahami apa yang saling dirasa, sehingga mengerti tanpa harus berkata. Aku tak menyadari sejak kapan kita mulai menghabiskan waktu bersama, hingga segalanya terasa berbeda. Walaupun kita masih orang yang sama.
Kamu masih orang yang sama, yang dulu menatapku tanpa rasa. Tetapi kini terasa sangat berbeda. Bagaimana tidak? Jika sikapmu padaku mulai tak semestinya. Kini, kamu bahkan rela menahan tajamnya angin malam menusukmu, hanya tuk biarkan aku merasakan kehangatan. Tepukan lembut tanganmu di puncak kepalaku, tatapan lembut yang kini terpancar di matamu, bahkan senyum kecil yang tak henti-hentinya menghiasi wajahmu. Bahkan kini jemarimu tak ragu tuk bertaut dijemariku, menggenggam erat tanganku dan berjalan bersisian denganku. Jadi, salahkah jika hatiku bertanya tentang apa yang ada? Tentang rahasia yang tak jua kamu buka?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...