Langsung ke konten utama

Still about you


Yeah, semua ini masih tentang kamu. Tentang kamu yang masih bersemayam di hatiku, tentang senyummu yang selalu hangatkanku, tentang segala memori tentangmu yang bertahan ditengah kegelisahan hatiku, berusaha menghalau badai yang tak henti berhembus dalam jiwaku.
Yeah ini semua masih tentang kamu, yang entah mengapa terasa menjauh tak peduli seberapa kuat kutahan bayangmu disisiku. Ini semua masih tetang kamu yang mulai memudar termakan waktu, walaupun sekeras apapun ku coba mengingatmu.
Bayangmu memang masih dihatiku, walaupun ku ragu kau kan tetap disisiku. Aku telah mencoba membangun pelindung disisimu, agar kau takkan mengabur termakan waktu. Tetapi detik-detik itu lebih kuat, lebih sanggup menarikmu jauh, hingga melangkah tinggalkanku, tak peduli seberapa keras aku memanggil namamu.
Kamu memang masih dihatiku, di tempat terhangat yang ku miliki, di tempat dimana padam tak akan memakan api, tetapi dingin membekukanmu hingga tak lagi bertahan disisiku, walau sekeras apapun ku mencoba hidupkan api yang dulu, namun kamu tetap berlalu.
Aku tak tau apa yang telah mengubahmu, cercaan detik-detik itu kah? Ataukah dingin yang mencekammu? Hingga kini kamu memilih tuk berpaling. Sehangat itukah ingatanmu tentangnya? Sebaik itukah dirinya? Atau lebih banyak tawa dan bahagia yang ia tawarkan? Hingga kamu memilih tuk kembali bersamanya.
Akupun tak tau apa yang telah mengubahmu, hingga tak lagi ku kenali dirimu. Hingga ku kehilangan apa yang ada pada dirimu. Hingga ku tersesat dalam tatap matamu. Apakah kini hati kita tak saling bertaut? Seperti jarak yang membuat jemari kita tak lagi bertaut. Ataukah rasa untukku di hatimu telah hangus? Terkikis pupus karna haus.
Salahkah bila ku berusaha menahanmu? Berusaha mempertahankanmu disisiku. Berusaha agar kamu tak kembali kepadanya. Salahkah? Ataukah sayap-sayap cintaku terlalu tajam menusukmu? Atau lengan-lengan sayangku terlalu erat memelukmu? Hingga kamu tak lagi mau bertahan disisiku. Hingga kamu memilih tuk kembali ke peluknya.
Aku tau, tak sedikit luka mu karnaku. Genangan air matamu karna ku pun tak lagi cukup tuk kamu bendung. Aku tau mungkin dia jauh lebih baik dari aku, jauh lebih manjanjikan kebahagiaan untukmu, dan hal lain yang tak pernah ku berikan. Yeah, karna aku tak memiliki apapun tuk kujanjikan padamu.
Mungkinkah harus ku melepasmu? Karna kamu yang tak lagi ingin disisiku. Mungkinkah ku harus relakanmu? Karna tlah kamu runtuhkan kepercayaanku untukmu. Mungkinkah ku harus lupakanmu? Karna tlah lebih dulu kamu hapus segala tentangku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...