Langsung ke konten utama

Best fri(end)?

 Kamu adalah seseorang yang membuatku nyaman dengan kehidupan baruku, tempatku berbagi keluh dan kesah ku, tempatku melarikan tawa, tempatku bersembunyi saat tangis mendera, walaupun kita tak membagi rasa. Kita berada di dua hati yang berbeda. Kamu memang bukan yang teristimewa di hidupku, tetapi kamulah pelengkap hari-hari istimewaku. Kamu sosok sahabat yang baik untukku, walau tak sedikit yang mencerca.

Kamu selalu penuhi hariku dengan tawa, berbagi cerita dan canda. Tekadang aku ingin menjerit melihat kamu,  semua kecerobohan dan tingkah yang ada padamu, tetapi tak cukup untuk membuatku membencimu. Kamu memag bukanlah sosok yang aku idamkan untuk menjadi seorang “kakak” yang selalu aku dambakan, kamu memang bukanlah sosok yang aku idamkan untuk menjadi pelipur laraku. Tetapi semua kepolosan yang ada padamu, kejujuran yang selalu kamu ungkap, dan segala keterbukaan padamu, memupuskan segala batas tentang apa yang aku idamkan.

Tetapi kini, segalanya terassa berbeda. Entah siapa yang menjauh, atau siapa yang berubah. Perlahan sepi menyergapku, memelukku terlalu erat hingga aku tercekat. Mungkin kita tak lagi berada di jalan yang sama, mungkin aku bukanlah sahabat yang baik hingga aku dapat tergantikan. Mungkin telah banyak sosok yang menawarkan kebaikan padamu, hingga kini kita berjalan berlawanan.

Perlahan tapi pasti, setiap canda yang ada terkikiskan, cerita yang terciptapun terkikiskan erosi, kebersamaan yang adapun menghilang, sisakan jejak-jejak kering kesepian. Hingga yang terasa hanya hampa tak terbilang.

Entah apa yang sebenarnya terjadi, segalanya terjadi dengan tiba-tiba, menyergap tanpa member ruang tuk melawan, tanpa sebuah pertengkaran  ataupun kata perpisahan. Tiba-tiba saja segalanya terasa berbeda, terasa asing, terasa tak lagi berwarna, dan yang kini kurasa hanya kecewa.

Aku kecewa bukan karna kamu tak lagi mau temaniku. BUKAN! Karna sesungguhnya tanpamupun aku mampu. Aku kecewa bukan karna telah bnyak yang menggantikanku. BUKAN! Karna kamu memang pantas tuk mendapatkan sahabat yang jauh lebih baik dariku. Satu-satunya hal yang membuatku kecewa hanyalah apa yang kamu ucapkan padaku, apa yang kamu tuduhkan padaku. Seegitu burukkah aku di matamu? Jika aku memang ingin menciptakan pertengkaran diantara kalian, jika memang aku tak pernah suka melihat kalian bersama, aku bisa melakukannya dari dulu. Bukankah aku memiliki nomor handphonenya? Bukankah dia mengirimiku pesan melalui salah satu jejaring social? Lantas apakah aku melakukan atau mengatakan sesuatu padanya? TIDAK! Aku hanya melakukan apa yang kamu minta.

Jika memang persabatan kita tak dapat dipertahankan (ups, atau mungkin persahabatan ini hanya sepihak?). maka tak akan pernah lagi kupertahankan. Terimakasih atas warna yang pernah kamu bawakan, terimakasih atas setiap canda dan tawa yang ada. Terimakasih karna kamu telah temaniku. Terimakasih atas segalanya. Dan maaf jika aku pernah melukaimu, membuatmu kecewa karnaku. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...