Kamu selalu penuhi hariku dengan
tawa, berbagi cerita dan canda. Tekadang aku ingin menjerit melihat kamu, semua kecerobohan dan tingkah yang ada padamu,
tetapi tak cukup untuk membuatku membencimu. Kamu memag bukanlah sosok yang aku
idamkan untuk menjadi seorang “kakak” yang selalu aku dambakan, kamu memang
bukanlah sosok yang aku idamkan untuk menjadi pelipur laraku. Tetapi semua
kepolosan yang ada padamu, kejujuran yang selalu kamu ungkap, dan segala
keterbukaan padamu, memupuskan segala batas tentang apa yang aku idamkan.
Tetapi kini, segalanya terassa
berbeda. Entah siapa yang menjauh, atau siapa yang berubah. Perlahan sepi
menyergapku, memelukku terlalu erat hingga aku tercekat. Mungkin kita tak lagi
berada di jalan yang sama, mungkin aku bukanlah sahabat yang baik hingga aku
dapat tergantikan. Mungkin telah banyak sosok yang menawarkan kebaikan padamu,
hingga kini kita berjalan berlawanan.
Perlahan tapi pasti, setiap canda
yang ada terkikiskan, cerita yang terciptapun terkikiskan erosi, kebersamaan
yang adapun menghilang, sisakan jejak-jejak kering kesepian. Hingga yang terasa
hanya hampa tak terbilang.
Entah apa yang sebenarnya
terjadi, segalanya terjadi dengan tiba-tiba, menyergap tanpa member ruang tuk
melawan, tanpa sebuah pertengkaran ataupun kata perpisahan. Tiba-tiba saja
segalanya terasa berbeda, terasa asing, terasa tak lagi berwarna, dan yang kini
kurasa hanya kecewa.
Aku kecewa bukan karna kamu tak
lagi mau temaniku. BUKAN! Karna sesungguhnya tanpamupun aku mampu. Aku kecewa
bukan karna telah bnyak yang menggantikanku. BUKAN! Karna kamu memang pantas
tuk mendapatkan sahabat yang jauh lebih baik dariku. Satu-satunya hal yang
membuatku kecewa hanyalah apa yang kamu ucapkan padaku, apa yang kamu tuduhkan
padaku. Seegitu burukkah aku di matamu? Jika aku memang ingin menciptakan
pertengkaran diantara kalian, jika memang aku tak pernah suka melihat kalian
bersama, aku bisa melakukannya dari dulu. Bukankah aku memiliki nomor
handphonenya? Bukankah dia mengirimiku pesan melalui salah satu jejaring social?
Lantas apakah aku melakukan atau mengatakan sesuatu padanya? TIDAK! Aku hanya
melakukan apa yang kamu minta.
Jika memang persabatan kita tak
dapat dipertahankan (ups, atau mungkin persahabatan ini hanya sepihak?). maka
tak akan pernah lagi kupertahankan. Terimakasih atas warna yang pernah kamu
bawakan, terimakasih atas setiap canda dan tawa yang ada. Terimakasih karna
kamu telah temaniku. Terimakasih atas segalanya. Dan maaf jika aku pernah
melukaimu, membuatmu kecewa karnaku. :)
Komentar
Posting Komentar