Langsung ke konten utama

Things called "love"

Entah kita memang saling berkaitan
atau takdir hanya senang bermain denganku
aku dan kamu mungkin memang tak diciptakan untuk bersatu
karna waktu tak pernah berpihak padaku
pada kisah kita..

kisah ini dimulai dari beberapa tahun lalu. Saat aku pertama kali bertemu denganmu. Aku mengagumimu sejak dulu. Sejak kita duduk dibangku sekolah dasar (yahh.. mungkin itu yang mereka panggil ‘cinta monyet’). Aku masih ingat dengan jelas saat pertama kali aku melihatmu, dan sejak saat itu aku ‘hanya melihatmu’.

Saat itu kita duduk di berada di tingkat 2 di salah satu sekolah dasar swasta. Aku lupa bagaimana awalnya kita duduk berdekatan, yang aku ingat saat itu pelajaran bahasa inggris sedang berlansung. Entah karna kepandaianmu, atau karna paras wajahmu atau bahkan hanya karna senyummu, aku mulai terpikat (yaahhh.. tapi apa sih yang anak kelas 2 SD tau tentang cinta dan hal semacamnya?).

Waktu berlalu begitu saja, setiap detiknya memakan usia kita. Masih di sekolah yang sama, hanya di tingkat yang berbeda aku masih mengagumimu, masih bersembunyi dalam bayang-bayang tentang dirimu. Waktu memang tak pernah berada dipihakku. Aku dan kamu tak pernah berkesempatan untuk sekedar berbincang. Kita selalu dalam olokan mereka. Bahkan segaris senyumpun tak pernah kita bagi.

Hingga di tinggkat akhir (kelas 6 SD gitu ceritanya >-<) aku masih bersembunyi dalam kelabu, menatap jauh ke arah bayangmu. Kamu yang manis, kamu yang baik, kamu yang pandai, dan kamu yang berkilau dengan segala prestasi bela dirimu membuatmu menjadi semakin tak terraih. Aku sempat bertanya-tanya. Saat itu, saat dia menyatakan cintanya padaku apakah kamu merasa kan sesuatu? Cemburukah? Atau kamu bahkan tak peduli?

Taukah kamu, hanya melihatmu saja sudah cukup bagiku, bahkan hanya sekedar tak sengaja berjalan bersisianpun aku telah merasakan bahagia. Taukah kamu aku menerjang segala ketidak mungkinan dan bertumpu pada setitik harapan agar aku dapat selalu melihatmu? Hingga segala usahaku membawaku berdiri di sini. Di sekolah menengah terfavorit yang kusangka akan kamu tuju. Taukah kamu betapa kecewanya aku saatm menyadari namamu tak ada dalam sederet nama-nama itu?

Suatu ketika aku mendengar bahwa kamu telah berdua. Taukah kamu betapa aku merasa terluka? Dan ketika aku tau bahwa bahkan dia bukanlah orang yang baik untukmu, aku merasa semakin terluka. Dan suatu ketika aku melihatmu membonceng seorang wanita. Taukah kamu betapa kamu telah meremukkan segala bahagia yang kurasa? Yaahh... mungkin kita memang tak ditakdirkan bersama.

Aku berusaha semampuku untuk melangkah maju. Meninggalkan segala bayang tentangmu.  Tepat ketika aku merasa segalanya telah berakhir, tiba-tiba kamu datang kembali. Menyiram benih yang dulu tersembunyi dan terinjak perih. Menghapuskan jarak yang pernah ada. Taukah kamu betapa bahagianya aku hanya dengan bertukar pesan singkat denganmu? taukah kamu aku bahkan tak mampu hanya sekedar menatapmu saat kita bertemu? Bahkan hanya jabat tangan singkat mampu membekukan segala kewarasanku. Taukan betapa kamu membuatku merasa berbinar dan bercahaya? Yaahh,, cahaya yang kemudian kamu redupkan lagi.

Mungkin memang benar waktu tak pernah tepat mampertemukan kita, atau hanya takdir senang mengolok-olok kebodohan yang kurasa. Kamu boleh percaya atau pun bahkan tertawa. Tetapi semenjak kita bertemu kejadian ajaib tentangmu selalu terjadi. Kamu yang tiba-tiba menjelma secara nyata ketika aku mengerjap harap untuk bertemu denganmu, kamu yang bahkan datang disaat kepergian dan pemakaman ibunda tercintaku (walaupun kita tak bertemu, tetapi aku menangkap sosokmu di kejauhan :D), kamu yang menghiasi mimpi dalam lelap tidurku, dan jutaan hal ajaib lain. Yaaahhh.. hanya saja mungkin waktu belum mempersatukan kita. ;)

Jadi,, pernahkah kalian memiliki cerita yang sama? Tentang mengagumi seseorang yang bahkan tak pernah terpupuskan oleh waktu. Pernahkan kalian merasakan hal yang sama? Bahagia hanya karna dapat menatapnya, merasakan keajaiban saat mencintainya, dan sejuta perasaan lain yang tak mampu di ungkapkan kata.

Inilah kisahku tentang kamu, tentang kekaguman, cinta (jika memang ini cinta :D), dan tentang segala kilau cahaya rasaku padamu. :D



Ssssttt... biarkan ini tetap menjadi rahasia.. ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...