Langsung ke konten utama

Kamu (lagi)

Hei.. ini ceritaku tentang kamu yang masih menghantui pikiranku, yang masih saja enggan bergeser dari hatiku, yang membuatku menulis tentangmu “lagi”. Yahh.. walaupun ini tak sepenuhnya tentangmu. But, it’s still about you. And always been you! 

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sebelum kamu mulai hadir di mimpiku, sebelum kamu kembali membuatku merasa rindu, sebelum kamu menjelma nyata dihadapanku. Kamu tau, betapa aku telah berusaha menghapus bayang-bayangmu, betapa aku berusaha meyakini bahwa kamu bukan untukku. 

Kamu tau? semenjak hari itu, melangkah menjauh terasa begitu berat, bertahan agar tak berpaling padamu terasa begitu menyakitkan, dan berusaha menerima kenyataan bahwa kita tak ditakdirkan bersama terasa begitu memilukan. Kamu tau apa yang lebih menyakitkan? Kenyataan bahwa aku tak mampu untuk menerima uluran tangannya yang berusaha menarikku dari segala bayang tentangmu. Kenyataan bahwa aku justru semakin menyakitinya karna tak mampu melupakanmu. 

Aku juga tak mengerti apa yang menahanku, apa yang membuatku tak dapat melupakanmu begitu saja, apa yang membuatku tak sanggup untuk menerima uluran tangannya. Kamu tau? Dia bahkan lebih baik dari kamu, lebih peduli, lebih mengenal keluargaku, dan yang pasti dia menyayangiku sepenuhhatinya. Tapi kenapa justru kamu yang selalu mengusik pikiranku, membuat hari-hariku membiru. 

Aahhh... tapi bahkan kamu tak pernah peduli padaku. Kamu yang mengatakan bahwa tak boleh ada seorangpun yang menyakitiku, mengatakan bahwa kamu akan melindungiku. Taukah kamu? Bwahwa setiap kata manis itu yang membuatku semakin hancur ketika kamu berlalu.

Sudahlah.. ini juga bukan sepenuhnya salahmu. Atau bahkan ini memang bukan salahmu? Yap! Ini salahku, karna terlalu jauh mencintaimu, karna terlalu hanyut dalam bayang-bayangmu, dan karna tak cukup kuat untuk berpaling darimu. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...