Langsung ke konten utama

253 Hari Tanpamu

Aku termangu menatap langit-langit kamar kosku. Menelusuri tiap retakan yang ada. Aku kembali merasa tidak berselera melakukan apa-apa. Perasaan tidak menyenangkan itu kembali hadir, mengendap-endap lalu menyergap membuat dadaku terasa sesak. Kunamai perasaan itu 'rindu'.

Berhari-hari ku coba membunuh waktu. Jangan bilang aku tak pernah berusaha! Aku sudah berusaha mengisi tiap kekosongan waktuku, mengerjakan skripsi, mengunjungi tempat menyenangkan, berkumpul dengan orang-orang yang menenangkan, hingga sekedar berputar-putar menelusuri jalanan malang. Hanya sekedar untuk memalingkan ingatanku tentangmu, membangun jarak yang mampu menahan bayangan mu, mambatasi segala gerak tentang kisah bersamamu. Tapi selalu saja aku tak mampu, dan kembali merasakan rindu untukmu.

Mungkin kamu tidak akan pernah membaca tulisanku, si bawelmu yang tak pernah berhenti menganggu. Mungkin kamu tak akan tau seberapa sulit menahan rindu untukmu, seberapa sulit mengabaikan walau luka hatikku bernanah karenamu. Mungkin bahkan kamu tak pernah mau tau.

Aku masih saja tak bisa berhenti mengingat rangkaian huruf yang membentuk kata manis pada tiap chatmu, janji-janji yang terkikis, sentuhan jemarimu di tanganku, senyum yang merekah di wajahmu, atau tatapan menggoda yang selalu membuatku tak mampu menahan senyum terukir di bibirku. Aku bahkan masih saja tak berhenti mengenang pertemuan-pertemuan kita, masih saja melamunkan tentang kita, atau sekedar menerka-nerka apa yang sebenernya kamu rasa. otakku masih saja tak henti memutar kenangan tentang aku dan kamu, tentang percakapan di teras rumahku, tentang perjalanan bertemu teman-temanmu. Ah, mungkin aku sudah terlalu jauh jatuh dalam pesonamu. 

Silahkan salahkan saja aku. Salahkan aku yang tak bisa menahan diri untuk tak tertarik padamu. Salahkan aku karena terbawa perasaan ketika bersamamu. Salahkan aku karna terkagum-kagum padamu, pada kecintaanmu pada Yang Kuasa, pada keteguhan hatimu, pada segala kebaikan yang ada pada dirimu. Yah, walaupun aku tau mencintaimusama dengan mengukir sendiri luka di hatiku. Bersaing melawan gadis-gadis cantik yang mengelilingimu tentu saja bukan hal yang mudah. Tak akan pernah mudah. Bahkan untuk sekedar mencuri perhatianmu saja bukan perkara mudah bagiku. Jutaan kata harus kutata agar sekedar membuatmu tertarik, puluhan chat yang kamu abaikan begitu saja, bahkan balasan singkat berupa kata yang membuatku mati gaya. 

Aku tak pernah berhenti berusaha, tak pernah berhenti berjuang untuk membuatmu sekedar menyadari hadirku, sekedar melirik kearahku. Tak akan pernah ada yang sia-sia bukan? Namun sepertinya hadirku memang tak pernah terlihat olehmu. Pada akhirnya kamu pergi begitu saja, meninggalkan sederet kata yang menyayat luka. Ya, aku menggarami luka yang kubuat sendiri, ketika kuputuskan untuk berhenti. Lalu apa arti percakapan hingga tengah malam yang melambungkan hati? Apa arti janji yang membuatku melayang tinggi? Sindiran yang kuartikan sebagai kecemburuan? Sinyal-sinyal yang kamu kirim tapi tak pernah tertangkap olehku? Bahkan perhatian yang tersirat dari tingkahmu? Ice cream yang kamu beri 110 hari lalu?

Sekarang aku hanya mampu terbaring lemah, menceritakan rinduku pada keheningan malam, atau jejaring sosialku. Merutuki betapa lemah hatiku, dan betapa jauh aku terperangkap pada bayang-bayang yang ku buat sendiri. Pada angan-angan bahwa kamu juga mencintaiku. Padahal tidak. Kamu terlalu terang untuk aku yang gelap, terlalu berharga untuk aku yang bukan apa-apa. 

Dua ratus lima puluh tiga hari berlalu, dan aku masih saja merindu. Mencintai dalam diam. aku tidak peduli jika kamu menganggapku berlebihan atau bahkan berdrama. Aku bahkan tak mau peduli jika kamu hanya diam dan mengabaikan semua tanda. aku mencintaimu. cukup itu saja. Biarkan rasa ini tetap menjadi rahasia, antara aku dan sang pencipta. 

Untukmu,
  yang selalu ku cintai dalam diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...