Aku termangu menatap langit-langit kamar kosku. Menelusuri tiap retakan yang ada. Aku kembali merasa tidak berselera melakukan apa-apa. Perasaan tidak menyenangkan itu kembali hadir, mengendap-endap lalu menyergap membuat dadaku terasa sesak. Kunamai perasaan itu 'rindu'.
Berhari-hari ku coba membunuh waktu. Jangan bilang aku tak pernah berusaha! Aku sudah berusaha mengisi tiap kekosongan waktuku, mengerjakan skripsi, mengunjungi tempat menyenangkan, berkumpul dengan orang-orang yang menenangkan, hingga sekedar berputar-putar menelusuri jalanan malang. Hanya sekedar untuk memalingkan ingatanku tentangmu, membangun jarak yang mampu menahan bayangan mu, mambatasi segala gerak tentang kisah bersamamu. Tapi selalu saja aku tak mampu, dan kembali merasakan rindu untukmu.
Mungkin kamu tidak akan pernah membaca tulisanku, si bawelmu yang tak pernah berhenti menganggu. Mungkin kamu tak akan tau seberapa sulit menahan rindu untukmu, seberapa sulit mengabaikan walau luka hatikku bernanah karenamu. Mungkin bahkan kamu tak pernah mau tau.
Aku masih saja tak bisa berhenti mengingat rangkaian huruf yang membentuk kata manis pada tiap chatmu, janji-janji yang terkikis, sentuhan jemarimu di tanganku, senyum yang merekah di wajahmu, atau tatapan menggoda yang selalu membuatku tak mampu menahan senyum terukir di bibirku. Aku bahkan masih saja tak berhenti mengenang pertemuan-pertemuan kita, masih saja melamunkan tentang kita, atau sekedar menerka-nerka apa yang sebenernya kamu rasa. otakku masih saja tak henti memutar kenangan tentang aku dan kamu, tentang percakapan di teras rumahku, tentang perjalanan bertemu teman-temanmu. Ah, mungkin aku sudah terlalu jauh jatuh dalam pesonamu.
Silahkan salahkan saja aku. Salahkan aku yang tak bisa menahan diri untuk tak tertarik padamu. Salahkan aku karena terbawa perasaan ketika bersamamu. Salahkan aku karna terkagum-kagum padamu, pada kecintaanmu pada Yang Kuasa, pada keteguhan hatimu, pada segala kebaikan yang ada pada dirimu. Yah, walaupun aku tau mencintaimusama dengan mengukir sendiri luka di hatiku. Bersaing melawan gadis-gadis cantik yang mengelilingimu tentu saja bukan hal yang mudah. Tak akan pernah mudah. Bahkan untuk sekedar mencuri perhatianmu saja bukan perkara mudah bagiku. Jutaan kata harus kutata agar sekedar membuatmu tertarik, puluhan chat yang kamu abaikan begitu saja, bahkan balasan singkat berupa kata yang membuatku mati gaya.
Aku tak pernah berhenti berusaha, tak pernah berhenti berjuang untuk membuatmu sekedar menyadari hadirku, sekedar melirik kearahku. Tak akan pernah ada yang sia-sia bukan? Namun sepertinya hadirku memang tak pernah terlihat olehmu. Pada akhirnya kamu pergi begitu saja, meninggalkan sederet kata yang menyayat luka. Ya, aku menggarami luka yang kubuat sendiri, ketika kuputuskan untuk berhenti. Lalu apa arti percakapan hingga tengah malam yang melambungkan hati? Apa arti janji yang membuatku melayang tinggi? Sindiran yang kuartikan sebagai kecemburuan? Sinyal-sinyal yang kamu kirim tapi tak pernah tertangkap olehku? Bahkan perhatian yang tersirat dari tingkahmu? Ice cream yang kamu beri 110 hari lalu?
Sekarang aku hanya mampu terbaring lemah, menceritakan rinduku pada keheningan malam, atau jejaring sosialku. Merutuki betapa lemah hatiku, dan betapa jauh aku terperangkap pada bayang-bayang yang ku buat sendiri. Pada angan-angan bahwa kamu juga mencintaiku. Padahal tidak. Kamu terlalu terang untuk aku yang gelap, terlalu berharga untuk aku yang bukan apa-apa.
Dua ratus lima puluh tiga hari berlalu, dan aku masih saja merindu. Mencintai dalam diam. aku tidak peduli jika kamu menganggapku berlebihan atau bahkan berdrama. Aku bahkan tak mau peduli jika kamu hanya diam dan mengabaikan semua tanda. aku mencintaimu. cukup itu saja. Biarkan rasa ini tetap menjadi rahasia, antara aku dan sang pencipta.
Untukmu,
yang selalu ku cintai dalam diam.
Komentar
Posting Komentar