Langsung ke konten utama

Rindu Kelabu


Masih saja kurasakan rindu datang mengendap lalu menyergap. Rindu dari rasa yang lalu. Rindu yang kukubur awan kelabu,. Rindu yang masih saja untukmu. Setahun lalu, tapi bagiku terasa sudah sewindu berlalu setelah kisah kita berakhir pilu, namun nyatanya hatiku masih kerap memikirkanmu, memupuk rindu. Masih saja bayangmu muncul malu-malu dalam benakku, sekedar menyapa atau bahkan mengingatkan kenangan manis tentangmu. Ahhh, waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kamu duduk disampingku, berbagi cerita bersamaku. 

Jalan kita memang tak lagi sama sejak kita putuskan tuk memecah arah. Kamu bahagia dengan jalanmu, dan aku yang masih saja merutuki kepergianmu. Sering kali aku terhanyut kisah yang lalu-lalu ketika tak sengaja melewati tempat yang penah kudatangi bersamamu. Bahkan masih saja aku merasa malu-malu ketika tak sengaja bertatapan mata denganmu. Ahh, rasa di hatiku nampaknya tek berubah sedikitpun untukmu. 

Entah berapa kisah cinta yang telah kamu lalui sepeninggalanku, entah berapa banyak kebahagiaan yang memenuhi hatimu. Bahkan kini yang ku tau, kamu mendekati teman baikku. Hahaha, ya! Aku masih saja diam-diam mencari kabarmu. Memungut tiap jejakmu tanpa tau malu. Seringkali aku merutuki kebodohanku yang masih saja memujamu setelah apa yang kau lakukan padaku, namun apalah dayaku jika pada akhirnya hatiku selalu menuntun kembali padamu. Walau kamu telah menolakku berkali-kali. 

Biarkan saja, kelak hatiku mungkin akan lelah sendiri. Hingga akhirnya ia berhenti mencari pembenaran atas sikapmu padaku. Atau bahkan berhenti mengaitkan segala tingkahmu dan berharap aku masih di hatimu. Mungkin, kelak dikemudian hari namamu tak akan tersebut hatiku lagi. Mungkin. Meski aku masih tak terlalu yakin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...