Langsung ke konten utama

Hari Paling Sendu. Hari Paling Merindumu. Hari Ibu.


Waktu telah lama berlalu sejak engkau tak lagi di sisiku, tapi tak pernah seharipun aku berhenti merindu. Hai, ma. Apakabar disana? Maaf karna aku tak pernah jadi sosok yang sempurna untukmu. Jika saja aku mampu mengulang waktu, maka kan ku luangkan banyak waktu untuk sekedar memelukmu. Karna nyatanya umurmu tak lebih panjang dari waktu sibukku. 😢

Satu dari sekian hari yang membuatku merasa semakin merindu. Hari Ibu. Ketika aku membayangkan setiap anak memeluk ibu mereka. Atau sekedar mengucapkan selamat hari ibu. Ah, ini semakin membuatku merasa merindukan mamaku. Berharap ia masih disini, dan memelukku mengatakan bahwa ini hanya sebuah mimpi. 😭

Hai, ma. Maaf karna hari ini pun aku tak mampu menahan air mata ketika mengingatmu. Dan sama seperti sesal di hari-hari yang lalu, aku masih saja merutuki kesalahanku yang tak pernah mampu meluangkan sejenak waktuku untukmu. Sesuatu yang kini tak henti kusesali. Sering kali ku biarkan mama sekedar menunggu kepulanganku, bahkan tak jarang bertanya tak lelahkah aku dengan segala kesibukanku. Ah, tapi tingkah ku malah semakin menyakitimu. Aku bersikeras berusaha mencapai apa yang ku mau hingga selalu saja mengabaikanmu. Selalu saja aku berfikir bahwa masih ada hari esok untuk sekedar menemuimu. Ah, betapa bodohnya aku kala itu. 😔

Hai, ma. Maaf karna tak pernah sekalipun aku menunjukkan betapa aku menyayangimu. Mencium atau memelukmu pun aku tak pernah mampu karna malu. Jika waktu mampu ku putar kembali, tak akan ragu aku memeluk dan menciummu. Ahh, kini tak ada lagi kesempatan untukku. 😞

Selamat hari ibu, untuk malaikatku di surga. Sama seperti hari-hari kemarin, aku tak akan henti merapal doa untuk mama, karna sesungguhnya rangkaian kata pun tak lagi bermakna. Postingan ini pun mungkin tak akan terkirim ke surga, tapi biarlah aku sejenak membagi rinduku pada media. 😂😘😳

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...