laksana menyesap kopi dikala senja, kedekatan kita hangat dan terasa sempurna. Ya, Semua terasa sempurna, walau nyatanya ada pahit yang mengendap disana.
Hadirku yang menyela diantara kamu dan dia. Ketakutan akan kamu yg dapat pergi kapan saja. Dan sikapmu yang masih saja membuat ku melakukan kesalahan yang sama. Terperangkap pada jeratan yang sama.
Masih terekam dalam ingatan, sisa pelukan hangat dan wangimu yang menempel di bajuku. Atau bahkan ketika kecup singkat dan canggung antara kita yang begitu sempurna. Mengepakkan kembali kupu dalam perutku. Menghadirkan bahagia walau terasa semu. Dan Seperti biasa masih saja aku tak mampu mengartikan sikapmu.
Hingga kini, mencintaimu masih saja menjadi kesalahan yang ku sengaja. Patah hati yang sempurna.
Komentar
Posting Komentar