Langsung ke konten utama

Menemukan dan ditemukan

Jauh setelah aku melangkah. Menapakkan kakiku perlahan ke tanah. Menyeret dan memaksa tubuhku yang lemah. Mengumpulkan hati yang tinggal remah. Menata kembali mimpi-mimpi yang berserak pasrah. Jauh, setelah aku memutuskan menyerah dan pisah. Kita bertemu.

Diantara ribuan manusia, semesta memilih kamu dan aku untuk bertemu. Bertukar tatap malu-malu, lalu tersipu. Petualangan ribuan mil, berakhir pada senyummu diantara waktu yang membisu. Dari semua kemungkinan yang ada, kamu adalah harap yang membuatku tak henti merasa bahagia.

Denganmu, jatuh tak terasa menyiksa. Membangun mimpi bahagia, mengerjap  harap pada pemilik semesta.  Denganmu, aku ingin berlama-lama. Berteduh diantara kedua mata, atau menyesap senyum diantara dua lesung. Denganmu, aku bahagia. Dilindungi dalam genggam, dan dicintai dalam dekap. Denganmu, aku utuh. Mengerti tanpa dihakimi, dewasa tanpa di paksa. Denganmu, segalanya sempurna.

Diantara kabut yang mencipta kalut, kamu menerangi jalanku. Diantara dingin di malam yang ribut, kamu menenangkanku. Kamu adalah apa yang kusebut bahagia. Kamu adalah apa-apa yang kuharap disetiap doa. Kamu adalah hadiah terindah.

Kamu, yang tak pernah berhenti meyakinkan raguku. Menjawab pasti setiap tanyaku. Mengerti setiap tingkahku yang sering menyakiti. Kamu dengan segala kurangmu melengkapiku. Menjadi bagian yang mengutuhkanku. Menjadi pelengkap jalani hari-hariku.

Terima kasih karna telah singgah dan tak meminta pisah. Terima kasih, karna menyembuhkan tanpa mencipta luka. Terima kasih. Semoga sayang bukan hanya sekedar ucap lalu menguap. Semoga impian bukan hanya angan lalu menghilang. Semoga pada akhirnya jalan kita selalu beriringan tanpa perlu bercabang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...