Langsung ke konten utama

Aku dan Kamu, yang tak sempat menjadi "Kita"

Ini adalah kisahku tentang mu. Kisah si penakut, dengan ribuan keraguan yang menahan langkah. Kisah si pemimpi, dengan berbagai imaji tentang indah negeri penuh fantasi. Kisahku tentang kamu yg  menggenggam jemari kedalam kisah penuh mimpi. Tunjukkanku bahwa dasar lautan sama indahnya dengan pantulan langit di kemilaunya permukaan. Kisah tentang aku  dan  kamu yang tak sempat menjadi kita.

Kamu yang tak lelah mencari celah untuk sekedar mengintip jauh ke dalam lubuk hati, akhirnya justru mampu mencuri separuh hati. Sisa yang ku jaga sepenuh hati agar tak terluka ketika bagian lainnya di patahkan. Kemudian dalam sekejap mata, kamu menjelma menjadi binar dalam setiap tatap mata. Kamu mengambil peran dalam gemerlap hari-hari.

Cinta mungkin tak akan pernah salah, pun rasa dalam kisah kita. Namun, mungkin waktu yang tak berpihak pada kita, karna adamu diantara aku dan dia. Ah, katamu tak ada kata waktu yang tak tepat, atau cinta yang datang terlambat. Katamu, itu hanya perihal meyakini apa yg kita miliki. Atau hal semacam itu yang aku tak tau pasti. Yang aku tau, kini hatiku terbelah, tak simetris, tak adil, dan tetap berat sebelah. Namun tetap saja tak mampu aku menentukan arah.

Keragu-raguan dan ke tamakanku akhirnya mengharuskan kisah kita kandas. Membiarkanmu lepas karna ada hati lain yang tak mampu ku lepas. Ya, karna aku telah berdua, maka tak seharusnya kisah kita ada. 

Waktu berlalu, hari tanpamu terasa berat untukku. Berkali harus ku tikam hati dengan sebilah belati, menggilas rindu dalam sanubari. Tak kusangka, merelakanmu akan sesulit ini. Melepasmu akan serumit ini. Dan bayangmu tak pernah sekalipun meninggalkan ruang rindu di hati. Masih saja kamu singgah dalam lelap tidurku meninggalkan nyeri yang sama di hati.

Selepas langkah pergimu, tak kusangka akan kurasa duka. Tak kusangka hadirmu telah menjadi begitu bermakna. Rindu kian hari kian menyiksa, tetapi temu bukanlah suatu hal yang mungkin diterima. Ah, jangankan merindumu, tuk sekedar tau kabarmu pun aku tak mampu. Telah kamu tutup segala mungkinku untuk mencari kabarmu. 

Seusai pisah mu, resahpun sungguh tak lagi perlu. Kisah kita sungguh telah musnah, takdir mungkin tak mengiyakan kita selangkah. Langit tak merestui kita seirama. Semoga pada akhirnya aku dan kamu sama-sama bahagia walau tak sempat menjadi kita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...