Langsung ke konten utama

''Sweet Dream''


aku mengagumimu dalam bayang-bayang..
mengulum senyum di relung terdalam..
dan aku mencintaimu dalam diam..
menitipkan lantunan kata dalam bilik kerinduan..


yaa.. ini masih tentang kamu. tentang kamu yang bersembunyi dalam diam. yang membuatku tersenyum karna mimpi singkat tentangmu, tentang pertemuan singkat. ;)

aku tak pernah memimpikan hari itu kan datang. hari dimana aku bertemu denganmu. bukan hanya berpapasan seperti dulu, atau melihatmu dari kejauhan. BUKAN! kamu berdiri tepat di depanku, berjalan tepat disampingku, dan berbicara menatap mataku. heii,, taukan kamu betapa aku berharap kamu takkan mendengar degub jantungku yang seakan berpacu? Tahukah kamu betapa aku berusaha menahan senyumku, menahan gelitik ribuan kupu-kupu diperutku. Ya! Aku bahagia. Sangat bahagia. :D

awalnya aku tak menyangka bahwa kita benar-benar akan bertemu. Benar-benar berbincang walau kecangguangan masi menyergap, membentang dinding jarak antara kita. Kamu.. yap kamu! Yang berjalan di belakangku tanpa mengucap sepatah kata. Yang membuatku tak sanggup berbalik tuk sekedar memastikan bahwa itu kamu. Kamu.. kamu yang berdiri menungguku berbalik dan mengalihkan pandanganku dari buku yang kupegang. Kamu.. yang membuatku tak mampu menahan senyumku merekah saat melihatmu berdiri, menunggu. Kamu yang membuatku bersemu karna menatapku begitu lama. Heii.. tahukah kamu? Aku sangat bahagia! :D

bahkan ketika kamu menyebutkan segala hal tentang “dia” segala hal yang dapat menghancurkan hatiku. Itu tak pernah cukup untuk sekedar “melukaiku” atau menghapus semua “tentangmu”. Hey, jangan salahkan aku karna begitu mencintaimu, begitu mengagumimu dalam diam. Karna aku tak pernah mampu untuk sekedar memalingkan hatiku darimu.

Jangan memaksaku untuk mengungkapkannya, mengatakan segala rasa yang tersimpan di dalam dada. Karna aku cukup melihatmu bahagia tanpa aku ada, karna aku cukup bahagia hanya dengan mencintaimu dalam rahasia. karna aku sangat bahagia karna pertemuan singkat kita. :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...