Langsung ke konten utama

let you go


“Tak peduli berapa banyak air mata yang menetes, rasa sakit itu masih ada.
 Masih berdiam disana, dibagian terluas hatiku. 
Menancap teramat kuat, tak peduli seberapa besar upayaku melepaskannya. “


Kamu adalah satu-satunya sosok yang selalu menerimaku, tak peduli seberapa jahatnya aku padamu, seberapa sering aku menyakitimu, kamu tetap berdiri disana dan tertawa. Entah berapa kali aku mencoba membuatmu marah, menguji batas sabarmu, tapi kamu tak pernah goyah. Tak pernah sedikitpun memundurkan langkah.

Kamu adalah sosok yang bahkan selalu kuanggap salah. Menatapmu saja membuatku jengah. Tapi entah mengapa justru hadirmu yang membuatku lemah. Meruntuhkan segala benteng yang tak pernah terjamah. Entah sejak kapan aku mulai terpanah.Semuanya terasa begitu mudah, hingga suatu ketika kamu berubah. Mungkin karna kamu mulai lelah, atau mungkin kamu mulai jengah.

Kamu yang selalu melindungiku, kini justru merobek hatiku. Mengoyak segala percayaku padamu. Kamu yang selalu menghapus dukaku, kini justru meggores luka dihatiku. Meluluhkan air mataku. Dan kamu yang selalu menghiasi hari indahku, kini justru menjadi penyebab kelamnya hariku. Meredupkan cahaya di hariku. Entah apa yang membuatku begitu terluka, terkubur dalam kesunyian. Entah apayang perlu kamu lakukan, agar membuatku kembali tertawa riang.

Aku bukanlah sosok yang begitu mudah membenci, bukanlah sosok yang begitu mudah mendendam, atau bahkan sekedar merasakan sakit hati. Dan kamu bahkan bukanlah sosok yang mudah mencaci,  Dan kamu bahkan bukanlah sosok yang mudah mencaci, bukan sosokyang mudah menciptakan benci, atau bahkan sekedar melukiskan sakit dihati. Tetapi kamu justru yang mampu melukaiku begitu dalam. Aku mempercayaimu, dan kamu begitu saja mengabaikan percayaku.

Aku mulai mengambil langkah menjauh, menciptakan jarak yang tak jauh namun cukup untuk membuat kita merasa jauh. Aku hanya mampu menatap, mengamati setiap apa yang kamu lakukan untuk meyakinkanku, namun justru membuatku semakin yakin. Yakin tuk mengambil langkah dan berlalu. Jika memang dia tak berarti atau bahkan tak pernah berarti, mengapa kamu harus mengiriminya pesan yang tak perlu? Mengapa kamu harus mencari cara tuk menarik hatinya? Mengapa bahkan kamu justru mengabaikanku yang memintamu menjauh darinya?

Aku masih aku yang sama, gadismu yang selalu kekanakan, selalu keras kepala, selalu mengambil keputusan sepihak, selalu mudah berfikiran buruk, dan berjalan diatas segala logika. Aku masih sama, dengan segala sifat burukku yang selalu kamu terima, yang selalu membuatmu tertawa. Tetapi mengapa kini seakan menjadi masalah. Dulu, sebelum adanya dia diharimu, kamu tak pernah sekalipun membuatku terpojok, menyalahkan segala tingkahku, tapi kini segala yang kulakukan terasa begitu salah dan membuat masalah.

Kemana perginya kamu yang dulu? Yang mengerti betapapun buruknya aku. Kamu yang selalu menghapus tangisku, kini bahkan tak ada disaat aku menangis menahan sakitku. Coba renungkan lagi. Jika kamu tak pernah bertemu dia sebelumnya, masihkah aku harus menanggung semua ini?

Ahh.. sudahlah.. Sebelumnya pun aku baik-baik saja tanpamu, lalu mengapa kini harus bermasalah? Toh aku memutuskan untuk meninggalkanmu terlebih dahulu, lantas mengapa harus kuhalangi kisahmu yang baru. Kamu pernah bertanya padaku “sampai disinikah perjuanganmu?”. Lantas apa yang harus aku lakukan? Menahanmu untuk tetap disini kah sedang kamu terus menggores luka dihatiku? kamu tau batapa aku membencinya dan kamu tetap berdiri di sana, mengetuk pintu hatinya yang jelas telah terbuka untukmu. Lantas masihkah aku perlu berjuang, berusaha walaupun jelas tak berpeluang?

Sudahlah. Kisah kita pun telah usai. Lantas apa yang perlu kita perdebatkan. Kamu jelas telah memilih jalan tanpa hadirku, dan aku hanya perlu melakukan hal yang sama. Jika kamu memang baik untukku, toh kamu tak akan memintaku rela membagimu. Sudahlah. Tutup semua lembaran kisah kita. Kita jelas sudah tak berasa disisi yang sama. Sudahlah. Mungkin memang bukan kamu yang diciptakan untuk mengisi jarak diantara jemari dan menemaniku hingga akhir nanti. Sudahlah. J



Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...