“Tak peduli berapa banyak air mata yang menetes, rasa sakit itu masih
ada.
Masih berdiam disana, dibagian terluas hatiku.
Menancap teramat kuat, tak
peduli seberapa besar upayaku melepaskannya. “
Kamu adalah satu-satunya sosok
yang selalu menerimaku, tak peduli seberapa jahatnya aku padamu, seberapa
sering aku menyakitimu, kamu tetap berdiri disana dan tertawa. Entah berapa
kali aku mencoba membuatmu marah, menguji batas sabarmu, tapi kamu tak pernah
goyah. Tak pernah sedikitpun memundurkan langkah.
Kamu adalah sosok yang bahkan
selalu kuanggap salah. Menatapmu saja membuatku jengah. Tapi entah mengapa
justru hadirmu yang membuatku lemah. Meruntuhkan segala benteng yang tak pernah
terjamah. Entah sejak kapan aku mulai terpanah.Semuanya terasa begitu mudah,
hingga suatu ketika kamu berubah. Mungkin karna kamu mulai lelah, atau mungkin
kamu mulai jengah.
Kamu yang selalu melindungiku,
kini justru merobek hatiku. Mengoyak segala percayaku padamu. Kamu yang selalu
menghapus dukaku, kini justru meggores luka dihatiku. Meluluhkan air mataku. Dan
kamu yang selalu menghiasi hari indahku, kini justru menjadi penyebab kelamnya
hariku. Meredupkan cahaya di hariku. Entah apa yang membuatku begitu terluka,
terkubur dalam kesunyian. Entah apayang perlu kamu lakukan, agar membuatku
kembali tertawa riang.
Aku bukanlah sosok yang begitu
mudah membenci, bukanlah sosok yang begitu mudah mendendam, atau bahkan sekedar
merasakan sakit hati. Dan kamu bahkan bukanlah sosok yang mudah mencaci, Dan kamu bahkan bukanlah sosok yang mudah
mencaci, bukan sosokyang mudah menciptakan benci, atau bahkan sekedar
melukiskan sakit dihati. Tetapi kamu justru yang mampu melukaiku begitu dalam. Aku
mempercayaimu, dan kamu begitu saja mengabaikan percayaku.
Aku mulai mengambil langkah
menjauh, menciptakan jarak yang tak jauh namun cukup untuk membuat kita merasa
jauh. Aku hanya mampu menatap, mengamati setiap apa yang kamu lakukan untuk
meyakinkanku, namun justru membuatku semakin yakin. Yakin tuk mengambil langkah
dan berlalu. Jika memang dia tak berarti atau bahkan tak pernah berarti,
mengapa kamu harus mengiriminya pesan yang tak perlu? Mengapa kamu harus
mencari cara tuk menarik hatinya? Mengapa bahkan kamu justru mengabaikanku yang
memintamu menjauh darinya?
Aku masih aku yang sama, gadismu
yang selalu kekanakan, selalu keras kepala, selalu mengambil keputusan sepihak,
selalu mudah berfikiran buruk, dan berjalan diatas segala logika. Aku masih
sama, dengan segala sifat burukku yang selalu kamu terima, yang selalu
membuatmu tertawa. Tetapi mengapa kini seakan menjadi masalah. Dulu, sebelum
adanya dia diharimu, kamu tak pernah sekalipun membuatku terpojok, menyalahkan
segala tingkahku, tapi kini segala yang kulakukan terasa begitu salah dan
membuat masalah.
Kemana perginya kamu yang dulu? Yang
mengerti betapapun buruknya aku. Kamu yang selalu menghapus tangisku, kini
bahkan tak ada disaat aku menangis menahan sakitku. Coba renungkan lagi. Jika kamu
tak pernah bertemu dia sebelumnya, masihkah aku harus menanggung semua ini?
Ahh.. sudahlah.. Sebelumnya pun
aku baik-baik saja tanpamu, lalu mengapa kini harus bermasalah? Toh aku
memutuskan untuk meninggalkanmu terlebih dahulu, lantas mengapa harus kuhalangi
kisahmu yang baru. Kamu pernah bertanya padaku “sampai disinikah perjuanganmu?”. Lantas
apa yang harus aku lakukan? Menahanmu untuk tetap disini kah sedang kamu terus
menggores luka dihatiku? kamu tau batapa aku membencinya dan kamu tetap berdiri
di sana, mengetuk pintu hatinya yang jelas telah terbuka untukmu. Lantas masihkah
aku perlu berjuang, berusaha walaupun jelas tak berpeluang?
Sudahlah. Kisah kita pun telah
usai. Lantas apa yang perlu kita perdebatkan. Kamu jelas telah memilih jalan
tanpa hadirku, dan aku hanya perlu melakukan hal yang sama. Jika kamu memang
baik untukku, toh kamu tak akan memintaku rela membagimu. Sudahlah. Tutup semua
lembaran kisah kita. Kita jelas sudah tak berasa disisi yang sama. Sudahlah. Mungkin memang bukan kamu yang diciptakan untuk mengisi jarak diantara jemari dan menemaniku hingga akhir nanti. Sudahlah. J
Komentar
Posting Komentar