Langsung ke konten utama

Untuk kamu yang tak henti memberi warna


Hai kamu yang masih berdiri diam disudut hatiku.
Yang tak pernah sedetikpun bergeser dari ingatan.
Yang tak pernah sedikitpun hilang dari kenangan.
Yang selalu membuatku terjatuh berulang-ulang. 



Sepertinya kisahku tentangmu akan segera usai. Karena akhirnya aku dapat menuntunmu untuk membaca hatiku. Ingatkah kamu saat aku berkata “aku sudah menyatakannya, dengan caraku. Dan suatu saat dia pasti akan tau”. Dan kamu menertawakanku, menertawakan kebodohanku, menertawakan ketakutanku. Sejujurnya saat itu aku ingin menyatakannya padamu. Tapi aku terlalu ragu, hingga lidahku menjadi kelu.  

Aku hanya tak ingin menciptakan lagi beku diantara kita. Aku tak ingin hanya sekedar memandangi bayanganmu. Aku tak ingin segalanya kembali kelabu. Maka aku membiarkan kedekatan kita mengalir, tanpa perlu terusik dengan rasaku. Aku hanya ingin menebus tahun demi tahun yang membuat kita membisu.

Ingatkah kamu saat kamu bertanya ‘’lantas sampai kapan kamu  akan menyimpan segalanya sendiri, dan tak kamu ungkapkan? Sampai ajal menjemputmu?’’. Saat itu aku tertawa. Menertawakan kamu yang tampak gusar. Mungkin saat itu kamu telah menerima isyarat yang selalu ku kirim padamu. Atau kamu hanya gusar karna aku yang hanya diam menunggu. Sebenarnya apa yang kamu mau? Memintaku menyatakan rasaku? Haha itu tak akan mengubah apapun. Selain menciptakan jeda diantara kita. Aku hanya ingin menghapuskan jarak sedikit demi sedikit, karna jeda kita syarat makna.

Waktu yang berjalan tak pernah mengikiskan ingatanku tentangmu. Tidak pula menepis rasaku padamu. Jika aku menyatakannya begitu saja, maka aku akan merusak setiap inci keindahan dalam penantianku. Aku ingin mengenalmu perlahan, tak perlu terburu karna aku masih bisa menunggu. Aku ingin menyesapi setiap titik yang menggurat jalan hidupmu. Mengenali apa yang menjadi sedih dan bahagiamu, bukan hanya sekedar memilikimu.


Inilah alasanku mengirimimu dengan pesan serupa isyarat. Kamu tak perlu terburu meneguk semua rahasiaku, meneguk semua kisahku tentangmu. Kamu hanya perlu menyesapinya perlahan, agar kamu paham bahwa tak hanya  pahit yang terasa. Jika kamu bertanya-tanya apa yang harus kamu lakukan? Tidak ada. Kamu hanya perlu menuntunku yang masih menerka-nerka. Tak perlu tertalu cepat membuka segala kisahmu yang penuh liku. Jika kamu memang merasa terganggu, atau jengah dengan hadirku. Maka kamu cukup berdiri disana. Tak perlu melakukan apa-apa. Karna aku akan pergi dengan sendirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...