Hai kamu yang masih berdiri diam disudut hatiku.
Yang tak pernah sedetikpun bergeser dari ingatan.
Yang tak pernah sedikitpun hilang dari kenangan.
Yang selalu membuatku terjatuh berulang-ulang.
Sepertinya kisahku tentangmu akan
segera usai. Karena akhirnya aku dapat menuntunmu untuk membaca hatiku. Ingatkah
kamu saat aku berkata “aku sudah
menyatakannya, dengan caraku. Dan suatu saat dia pasti akan tau”. Dan kamu
menertawakanku, menertawakan kebodohanku, menertawakan ketakutanku. Sejujurnya saat
itu aku ingin menyatakannya padamu. Tapi aku terlalu ragu, hingga lidahku
menjadi kelu.
Aku hanya tak ingin menciptakan
lagi beku diantara kita. Aku tak ingin hanya sekedar memandangi bayanganmu. Aku
tak ingin segalanya kembali kelabu. Maka aku membiarkan kedekatan kita
mengalir, tanpa perlu terusik dengan rasaku. Aku hanya ingin menebus tahun demi
tahun yang membuat kita membisu.
Ingatkah kamu saat kamu bertanya ‘’lantas sampai kapan kamu akan menyimpan segalanya sendiri, dan tak kamu
ungkapkan? Sampai ajal menjemputmu?’’. Saat itu aku tertawa. Menertawakan kamu
yang tampak gusar. Mungkin saat itu kamu telah menerima isyarat yang selalu ku
kirim padamu. Atau kamu hanya gusar karna aku yang hanya diam menunggu. Sebenarnya
apa yang kamu mau? Memintaku menyatakan rasaku? Haha itu tak akan mengubah
apapun. Selain menciptakan jeda diantara kita. Aku hanya ingin menghapuskan
jarak sedikit demi sedikit, karna jeda kita syarat makna.
Waktu yang berjalan tak pernah
mengikiskan ingatanku tentangmu. Tidak pula menepis rasaku padamu. Jika aku
menyatakannya begitu saja, maka aku akan merusak setiap inci keindahan dalam
penantianku. Aku ingin mengenalmu perlahan, tak perlu terburu karna aku masih
bisa menunggu. Aku ingin menyesapi setiap titik yang menggurat jalan hidupmu. Mengenali
apa yang menjadi sedih dan bahagiamu, bukan hanya sekedar memilikimu.
Inilah alasanku mengirimimu
dengan pesan serupa isyarat. Kamu tak perlu terburu meneguk semua rahasiaku,
meneguk semua kisahku tentangmu. Kamu hanya perlu menyesapinya perlahan, agar
kamu paham bahwa tak hanya pahit yang
terasa. Jika kamu bertanya-tanya apa yang harus kamu lakukan? Tidak ada. Kamu hanya
perlu menuntunku yang masih menerka-nerka. Tak perlu tertalu cepat membuka
segala kisahmu yang penuh liku. Jika kamu memang merasa terganggu, atau jengah
dengan hadirku. Maka kamu cukup berdiri disana. Tak perlu melakukan apa-apa. Karna
aku akan pergi dengan sendirinya.
Komentar
Posting Komentar