Hampa, mungkin itu kata yang
mampu mendeskripsikan apa yang kurasa. Jelas itu bukan bahagia, karna tak
kudapati gelitik kupu di hatiku. Mungkin memang itu sebuah luka, tapi entah
mengapa aku justru tertawa menatapnya. Entahlah, aku tak tau bagaimana harus
mendeskripsikannya. Dan aku membiarkan tanya itu menggantung disana.
Beberapa waktu lalu aku merasa
rindu yang mendesak hingga kurasa sesak. Aku mengambil handphoneku dan mengetik
sederet nama yang sudah kuhafal diluar kepala. Keputusan yang kurutuki
setelahnya. Aku menemukan kenyataan bahwa kini kalian telah bersama. Aku tak
meneteskan air mata, walaupun jelas kurasa ada sesuatu yang menusuk teramat dalam.
Aku tak sanggup berkata bahkan mencerna segala yang kurasa. Aku juga tak tau
mengapa senyum terukir di bibirku walaupun jelas kurasa sesak didada. Pada
akhirnya ketakutanku menjelma secara nyata. Dan aku hanya mampu berharap kalian
bahagia. Ya, tentu saja aku berharap
kalian bahagia. Tentu saja aku tak ingin kamu merasakan sakit yang kurasa.
Entah mengapa aku tak pernah
merasa jera. Aku masih saja tak mampu menahan jemari untuk menelusuri kabarmu
hanya untuk meredam rindu yang kurasa. Keputusan
yang selalu mengukir luka. Sesaat kabut rindu yang kurasa terhalau cahaya,
karena kemunculannya. Sosok yang sempat memicu curigamu. Entahlah jika memang
itu yang kamu rasakan (?). Sosok yang kemudian membuatku ikut mencintai senja. Bahwa
senja tak selalu membawa duka, bahwa senja tak hanya tentang fatamorgana. Ah,
lupakan sejenak tentang sosok itu, karena ini masih ceritaku tentangmu.
Ya, segalanya berjalan baik-baik
saja sebelum kamu mulai menjelma dalam mimpi di lelap tidurku. Mimpi yang
selalu berusaha kutepis dan kuabaikan, namun selalu meronta dan mengusik
ketenangan. Hingga akhirnya menggoyahkan tekadku dan membuatku menelusuri jejakmu.
Hingga aku terpaku karena tak kudapati namanya dalam status-statusmu, tak
kudapati senyumnya menghiasi foto profilmu, atau bahkan tak kudapati panggilan
sayangmu pada komentar-komentar jenaka. Sudah berakhirkah? Selesai sudahkah
kisahmu dengannya? Secepat itukah? Entah mengapa tak ada bahagia yang menyusupi
celah hatiku, ataupun lega yang kurasa. Aku terbungkam ketika justru perih yang
menyusupi hatiku. Apakah sakit yang kaurasakan? Apakah dia yangmengakhiri
segalanya? Ratusan pertanyaan serupa bergema dalam pikiran. Sesungguhnya yang
kuinginkan hanya berlari ke arahmu, dan mengambil semua sakit yang kau rasakan.
Tapi apalah yang mampu aku lakukan. Karena jarak yang membentang diantara kita
tak mampu diabaikan, karena dinding yang terbangun telah kokoh menjulang.
Hai, kamu yang entah kini
bagaimana kabarnya. Tetaplah kokoh berdiri, abaikan dulu sakit dihati karena masih
ada mimpi yang menanti untuk dipenuhi. Semoga rentetan doa yang tak henti
terucap mampu menjadi penopang dan sandaran hatimu. Tersenyumlah karena masih
ada aku dan orang-orang yang bersedia menuntunmu ketika langkahmu mulai terseok
tak menentu. Bersemangatlah karena semua akan indah pada waktunya. J
Komentar
Posting Komentar