Langsung ke konten utama

semoga kamu baik-baik saja :)

Hampa, mungkin itu kata yang mampu mendeskripsikan apa yang kurasa. Jelas itu bukan bahagia, karna tak kudapati gelitik kupu di hatiku. Mungkin memang itu sebuah luka, tapi entah mengapa aku justru tertawa menatapnya. Entahlah, aku tak tau bagaimana harus mendeskripsikannya. Dan aku membiarkan tanya itu menggantung disana.

Beberapa waktu lalu aku merasa rindu yang mendesak hingga kurasa sesak. Aku mengambil handphoneku dan mengetik sederet nama yang sudah kuhafal diluar kepala. Keputusan yang kurutuki setelahnya. Aku menemukan kenyataan bahwa kini kalian telah bersama. Aku tak meneteskan air mata, walaupun jelas kurasa ada sesuatu yang menusuk teramat dalam. Aku tak sanggup berkata bahkan mencerna segala yang kurasa. Aku juga tak tau mengapa senyum terukir di bibirku walaupun jelas kurasa sesak didada. Pada akhirnya ketakutanku menjelma secara nyata. Dan aku hanya mampu berharap kalian bahagia.  Ya, tentu saja aku berharap kalian bahagia. Tentu saja aku tak ingin kamu merasakan sakit yang kurasa.

Entah mengapa aku tak pernah merasa jera. Aku masih saja tak mampu menahan jemari untuk menelusuri kabarmu hanya untuk meredam rindu yang kurasa.  Keputusan yang selalu mengukir luka. Sesaat kabut rindu yang kurasa terhalau cahaya, karena kemunculannya. Sosok yang sempat memicu curigamu. Entahlah jika memang itu yang kamu rasakan (?). Sosok yang kemudian membuatku ikut mencintai senja. Bahwa senja tak selalu membawa duka, bahwa senja tak hanya tentang fatamorgana. Ah, lupakan sejenak tentang sosok itu, karena ini masih ceritaku tentangmu.

Ya, segalanya berjalan baik-baik saja sebelum kamu mulai menjelma dalam mimpi di lelap tidurku. Mimpi yang selalu berusaha kutepis dan kuabaikan, namun selalu meronta dan mengusik ketenangan. Hingga akhirnya menggoyahkan tekadku dan membuatku menelusuri jejakmu. Hingga aku terpaku karena tak kudapati namanya dalam status-statusmu, tak kudapati senyumnya menghiasi foto profilmu, atau bahkan tak kudapati panggilan sayangmu pada komentar-komentar jenaka. Sudah berakhirkah? Selesai sudahkah kisahmu dengannya? Secepat itukah? Entah mengapa tak ada bahagia yang menyusupi celah hatiku, ataupun lega yang kurasa. Aku terbungkam ketika justru perih yang menyusupi hatiku. Apakah sakit yang kaurasakan? Apakah dia yangmengakhiri segalanya? Ratusan pertanyaan serupa bergema dalam pikiran. Sesungguhnya yang kuinginkan hanya berlari ke arahmu, dan mengambil semua sakit yang kau rasakan. Tapi apalah yang mampu aku lakukan. Karena jarak yang membentang diantara kita tak mampu diabaikan, karena dinding yang terbangun telah kokoh menjulang.


Hai, kamu yang entah kini bagaimana kabarnya. Tetaplah kokoh berdiri, abaikan dulu sakit dihati karena masih ada mimpi yang menanti untuk dipenuhi. Semoga rentetan doa yang tak henti terucap mampu menjadi penopang dan sandaran hatimu. Tersenyumlah karena masih ada aku dan orang-orang yang bersedia menuntunmu ketika langkahmu mulai terseok tak menentu. Bersemangatlah karena semua akan indah pada waktunya. J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...