Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

My illusion, my mistake

Ada saat dimana aku merasa lelah, dan hanya ingin sekedar rebah. Merapikan serpihan hati yang patah, agar yang pecah tak melukai jiwa yang telah pasrah. Ada waktu dimana aku merasa sepi, di antara gemerlapnya hari. Sendiri berdiam di tepi, meratapi hati yang kian mati. Sama seperti yang lalu, hari ini aku merindumu lagi. Ah, atau kusebut saja tak mampu menahan rindu? Karna nyatanya tak sedetikpun aku tak merindumu. Sama seperti kisah  yang lalu, hatiku masih membiru karnamu.  Kali ini segalanya tak jauh berbeda. Aku masih tak mampu berhenti mendambamu, dan merutuki kebodohan hatiku. Masih saja ia mudah terbujuk rayu, melambung karna angan karanganku. Pikiran dan hatikupun masih saling beradu, berdebat menyalahkan sang waktu. Ahh, pikirku masih saja tak henti menerka alasanmu mengabaikanku, bahkan kini ia pandai mengarang cerita tentangmu. Membujuk hatiku agar tak begitu saja berhenti memperjuangkanmu. Betapa pandai ia merekam setiap inci kenangan tentangmu. Satupun tak ad...

I'LL BE FINE (just not today)

Waktu terus berlalu walau kamu tak lagi di sampingku, meninggalkan sajak sepi terperangkap  di hati. Membiarkanku  merindu sendiri. aku rindu pada percakapan tengah malam di perjalanan kita yg panjang, pada hangatnya tawa diantara pekatnya malam, pada cerita-cerita yang tak henti terucap. ya aku merindumu. Aku tak tau apa yang membuatmu tiba-tiba beranjak pergi. Hingga kini, untuk sekedar membalas chatku pun kamu tak sudi. Adakah tingkahku yang melukai? Ataukah aku hanya tak sesuai lagi? Aku tak menyangka mencintaimu bisa menjadi serumit ini. Tahap tersulit bagiku ketika harus melepasmu adalah ketika aku harus bertaruh melawan waktu dan membunuh rinduku. Ketika aku harus berdamai dengan kenangan tentangmu. Aku pernah baik-baik saja sebelum mengenalmu, setelah inipun aku akan baik-baik saja. Rindu tanpa temu pun masih mampu kusampaikan melalui doa di sepertiga malamku. Setelah hari-hari mendung yang panjang, senduku akan hilang. Bukan, aku bukan melupakanmu tuan, aku...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...

And suddenly, we were strangers again

Bagaimana bisa begitu mudah perhatianmu dicuri lagi? Bagaimana bisa senyum tergambar begitu mudah hanya dengan sekali sapa? Aaahhh. Mangapa begitu mudah kamu menyerahkan hatimu begitu saja. Mengapa begitu mudah hatimu berdebar, berdesir bergejolak hanya karna tatap matanya. Aahhh. Masihkan kamu tak mengerti bahwa seharusnya tak semudah ini. Tapi mau bagaimana lagi? Nyatanya hatimu telah dibawa lari.  Lagi lagi kamu sibuk merangkai mimpi, menipu diri sendiri. Membangun harap yang tak pasti. Lalu kembali terluka lagi. Siapa lagi yang akan kamu salahkan kini? Masih saja kamu tak jera menitipkan harapan pada manusia. Masih saja kamu mencoba percaya pada omong kosong berkedok cinta. Haaahhh.. Mengapa kamu bisa sebodoh ini. Mengapa tak kamu sudahi saja semua khayalan ini. Seperti kisah yang lalu, kamu memilih buta, memilih tuli, mengabaikan segala peringatan untuk berhati-hati. Lalu kini, ketika ia memilih pergi, yang kamu lakukan hanya meratapi, menyesapi perih yang datang lagi...

Kisah (patah hati) lain

Seseorang yang singgah, bisa pergi kapan saja. Begitupun kamu, sekerjapan mata membawa bahagia, lalu sirna. Begitu saja.  Aku terbiasa dengan sapamu di pagi hari, pesan singkat yang hanya berisi panggilanmu untukku. Tanpa kata lain lagi. Atau pada merdu tawamu di telepon genggamku. Pada percakapan-percakapan tengah malam kita yang tak berarah pasti. Ya, aku menjadi lupa diri.  Perkenalan singkat membawa kita pada cerita sederhana tentang kita. Ahh aku lupa. Bukan kita, hanya aku dan kamu, karna bahkan tak akan pernah ada kata' kita'. Aku terlalu sibuk menerka lalu merajut harapanku sendiri, tanpa sadar kamu telah lama berhenti. Bahwa tak sekalipun kamu ada disisi. Karna memang bukan aku si pengisi hati.  Hari berganti, tapi harapku tak kunjung mati. Masih saja aku tak henti menanti, menggali jurangku sendiri. Mengapa kamu sangat pandai mencuri hati? Mengapa kamu sangat mudah membekas di hati. Ahhh atau kah aku yagg terlalu mudah jatuh hati. Bergelut pada har...

Teruntuk kamu, serpihan masa lalu ku

Terimakasih karna telah hadir lagi di hidupku. Membawa kembali bimbang dan ragu yang sama. Namun kali ini lebih pekat, lebih membuat ku tercekat. laksana menyesap kopi dikala senja, kedekatan kita hangat dan terasa sempurna. Ya, Semua terasa sempurna, walau nyatanya ada pahit yang mengendap disana. Hadirku yang menyela diantara kamu dan dia. Ketakutan akan kamu yg dapat pergi kapan saja. Dan sikapmu yang masih saja membuat ku melakukan kesalahan yang sama. Terperangkap pada jeratan yang sama. Masih terekam dalam ingatan, sisa pelukan hangat dan wangimu yang menempel di bajuku. Atau bahkan ketika kecup singkat dan canggung antara kita yang begitu sempurna. Mengepakkan kembali kupu dalam perutku. Menghadirkan bahagia walau terasa semu. Dan Seperti biasa masih saja aku tak mampu mengartikan sikapmu. Hingga kini, mencintaimu masih saja menjadi kesalahan yang ku sengaja. Patah hati yang sempurna.