Langsung ke konten utama

Postingan

What's meant to be will be

Kata banyak orang, melepaskan selalu menjadi pilihan menenangkan ketika tak lagi mampu bertahan. Tetapi menetapkan hati untuk berhenti atau tetap  bertahan nyatanya tak pernah benar-benar mudah. Walau luka berdarah-darah dan penuh nanah, nyatanya seringkali bergantung pada harapan bahwa si pujaan akan berubah selalu menjadi penghalang untuk menentukan arah. Tak peduli seberapa lama waktu di butuhkan, selalu ada alasan untuk tetap berdiam disana. Entah karna jalan yang telah jauh di tempuh akan terasa sia-sia jika menyerah, atau bahkan telah terlalu lelah untuk menerima ketidak pastian akan ada sosok yang lebih cerah. Setelah ribuan badai di kepala yang kutenangkan sendiri, setelah ribuan purnama yang menemani sepi. Rasanya aku mulai terbiasa berdiri sendiri. Berpasangan namun tetap berteman sepi. Berdua namun tetap berjuang sendiri. Bersama namun tetap berjalan sendiri. Kini dimengerti bukan lagi hal yang aku amini. Karna nyatanya dua tahun bersama masih tak mampu membuatnya m...
Postingan terbaru

Rindu dan 765.4 kilometer

Hai rindu, sahabatku .  Terima kasih sudah menemani hari-hariku, memupuk satu demi satu inginku tuk bertemu.  Hai, rindu, teman baikku . Jangan terlalu sering menghampirinya, aku cemburu. Cukup aku yang kau temani disini. Aku tak ingin ia resah, aku takut ia akan menyerah, pada jauhnya jarak yang seakan memaksa kita untuk pisah.  Hai, rindu, Jangan mengganggu! Jangan terlalu sering mendesaknya, memaksanya untuk segera mencipta temu, sedang waktu tak pernah berpihak padaku. "Jarak hanyalah angka", ucapnya dulu. Mantra penguat ku. Walau aku tahu, kamu (si rindu) sering kali tak sebercanda itu. Diantara angka itu, ada sesaknya candu akan temu, ada curiga dan cemburu yang berusaha mengganggu, dan ada ragu yang menggugu. Perihal rindu, aku tak ingin kamu mengusik hari-harinya. Aku yang mencintainya lebih dulu, bahkan sering merasa sesak dan tak mampu karenamu. Aku tak ingin kamu memberatkan hatinya, atau bahkan menjadikan hujan di pelupuk matanya. Jika m...

Aku dan Kamu, yang tak sempat menjadi "Kita"

Ini adalah kisahku tentang mu. Kisah si penakut, dengan ribuan keraguan yang menahan langkah. Kisah si pemimpi, dengan berbagai imaji tentang indah negeri penuh fantasi. Kisahku tentang kamu yg  menggenggam jemari kedalam kisah penuh mimpi. Tunjukkanku bahwa dasar lautan sama indahnya dengan pantulan langit di kemilaunya permukaan. Kisah tentang aku  dan  kamu yang tak sempat menjadi kita. Kamu yang tak lelah mencari celah untuk sekedar mengintip jauh ke dalam lubuk hati, akhirnya justru mampu mencuri separuh hati. Sisa yang ku jaga sepenuh hati agar tak terluka ketika bagian lainnya di patahkan. Kemudian dalam sekejap mata, kamu menjelma menjadi binar dalam setiap tatap mata. Kamu mengambil peran dalam gemerlap hari-hari. Cinta mungkin tak akan pernah salah, pun rasa dalam kisah kita. Namun, mungkin waktu yang tak berpihak pada kita, karna adamu diantara aku dan dia. Ah, katamu tak ada kata waktu yang tak tepat, atau cinta yang datang terlambat. Katamu, itu hany...

Menemukan dan ditemukan

Jauh setelah aku melangkah. Menapakkan kakiku perlahan ke tanah. Menyeret dan memaksa tubuhku yang lemah. Mengumpulkan hati yang tinggal remah. Menata kembali mimpi-mimpi yang berserak pasrah. Jauh, setelah aku memutuskan menyerah dan pisah. Kita bertemu. Diantara ribuan manusia, semesta memilih kamu dan aku untuk bertemu. Bertukar tatap malu-malu, lalu tersipu. Petualangan ribuan mil, berakhir pada senyummu diantara waktu yang membisu. Dari semua kemungkinan yang ada, kamu adalah harap yang membuatku tak henti merasa bahagia. Denganmu, jatuh tak terasa menyiksa. Membangun mimpi bahagia, mengerjap  harap pada pemilik semesta.  Denganmu, aku ingin berlama-lama. Berteduh diantara kedua mata, atau menyesap senyum diantara dua lesung. Denganmu, aku bahagia. Dilindungi dalam genggam, dan dicintai dalam dekap. Denganmu, aku utuh. Mengerti tanpa dihakimi, dewasa tanpa di paksa. Denganmu, segalanya sempurna. Diantara kabut yang mencipta kalut, kamu menerangi jalanku. Dianta...

My illusion, my mistake

Ada saat dimana aku merasa lelah, dan hanya ingin sekedar rebah. Merapikan serpihan hati yang patah, agar yang pecah tak melukai jiwa yang telah pasrah. Ada waktu dimana aku merasa sepi, di antara gemerlapnya hari. Sendiri berdiam di tepi, meratapi hati yang kian mati. Sama seperti yang lalu, hari ini aku merindumu lagi. Ah, atau kusebut saja tak mampu menahan rindu? Karna nyatanya tak sedetikpun aku tak merindumu. Sama seperti kisah  yang lalu, hatiku masih membiru karnamu.  Kali ini segalanya tak jauh berbeda. Aku masih tak mampu berhenti mendambamu, dan merutuki kebodohan hatiku. Masih saja ia mudah terbujuk rayu, melambung karna angan karanganku. Pikiran dan hatikupun masih saling beradu, berdebat menyalahkan sang waktu. Ahh, pikirku masih saja tak henti menerka alasanmu mengabaikanku, bahkan kini ia pandai mengarang cerita tentangmu. Membujuk hatiku agar tak begitu saja berhenti memperjuangkanmu. Betapa pandai ia merekam setiap inci kenangan tentangmu. Satupun tak ad...

I'LL BE FINE (just not today)

Waktu terus berlalu walau kamu tak lagi di sampingku, meninggalkan sajak sepi terperangkap  di hati. Membiarkanku  merindu sendiri. aku rindu pada percakapan tengah malam di perjalanan kita yg panjang, pada hangatnya tawa diantara pekatnya malam, pada cerita-cerita yang tak henti terucap. ya aku merindumu. Aku tak tau apa yang membuatmu tiba-tiba beranjak pergi. Hingga kini, untuk sekedar membalas chatku pun kamu tak sudi. Adakah tingkahku yang melukai? Ataukah aku hanya tak sesuai lagi? Aku tak menyangka mencintaimu bisa menjadi serumit ini. Tahap tersulit bagiku ketika harus melepasmu adalah ketika aku harus bertaruh melawan waktu dan membunuh rinduku. Ketika aku harus berdamai dengan kenangan tentangmu. Aku pernah baik-baik saja sebelum mengenalmu, setelah inipun aku akan baik-baik saja. Rindu tanpa temu pun masih mampu kusampaikan melalui doa di sepertiga malamku. Setelah hari-hari mendung yang panjang, senduku akan hilang. Bukan, aku bukan melupakanmu tuan, aku...

Same old story, someone new

Beberapa hari setelah kuteguhkan hatiku untuk melepasmu, aku menyadari sesuatu. Perasaan yang menyergap terasa sangat akrab. Terasa lekat dalam ingat. Terasa begitu melekat. Lalu, seketika aku tercekat. Ya, aku pernah berdiri di tebing yang sama. Dulu, bertahun-tahun lalu. Ini bukan kali pertama aku jatuh cinta pada seseorang yang berkurung sangkar bernama "masa lalu". Ini bukan kali pertama sakit itu menghinggapi hatiku. Ini bukan kali pertama aku terluka berdarah-darah. Dulu, bertahun-tahun lalu.  Aku bukan lagi si belia yang penuh ambisi, berlari mengejar sang pujaan hati. Diusiaku kini, aku mulai memahami bahwa ini bukan lagi tentang ambisi, atau sekedar mimpi yang ku karang sendiri. Jika itu menyangkut hati, aku ingin segalanya pasti. Aku tegak berdiri jika di ingini, aku akan setia menemani hanya jika kamu tak beranjak pergi.  Dan kini, aku hanya mampu berdiri menepi. Berharap kamu menghampiri. Tapi, bagaimana mungkin kamu mencari, ketika aku sama sekali tak be...